CorongNews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menguji batas psikologis baru dengan merosot hingga mendekati level Rp17.600. Bagi sebuah negara yang mengandalkan impor untuk sejumlah bahan baku industri, pangan, dan energi, angka ini bukanlah sekadar baris data di layar bursa saham.
Ini adalah alarm bagi stabilitas dompet luar negeri kita dan potensi transmisi inflasi ke meja makan masyarakat.
Namun, pemandangan unik justru tersaji di panggung politik dan kebijakan nasional. Alih-alih menunjukkan gurat kepanikan, jajaran otoritas tertinggi kompak menyuarakan optimisme.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa dengan percaya diri menegaskan bahwa pelemahan ini masih masuk dalam skenario simulasi fiskal yang telah diantisipasi.
Menkeu Purbaya tetap optimis kurva makroekonomi kita akan bergerak meningkat seiring berjalannya strategi penguatan penerimaan negara.
Optimisme ini divalidasi secara langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerjanya baru-baru ini.
Dengan gaya retorika khasnya, Presiden meminta publik tidak perlu panik secara berlebihan.
Entah candaan, entah serius,”Selama Purbaya bisa senyum, tenang saja, enggak usah khawatir.”
Presiden bahkan menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia, terutama di sektor ketahanan pangan dan energi, berada dalam kondisi aman.
Baginya, riuh rendah depresiasi mata uang ini lebih banyak merisaukan mereka yang bertransaksi dengan dolar atau gemar ke luar negeri, sementara masyarakat di pedesaan tetap beraktivitas normal tanpa ketergantungan langsung pada mata uang asing tersebut.
Kita tentu menghargai upaya pemerintah untuk menjaga psikologis pasar. Di tengah ketidakpastian geopolitik global yang membakar sentimen investor, kepanikan publik adalah musuh nomor satu yang harus dihindari.
Narasi “Indonesia baik-baik saja, Indonesia kuat” dan senyuman optimistis dari pembuat kebijakan berfungsi sebagai jangkar agar tidak terjadi capital outflow yang lebih masif. Kepercayaan investor asing bahwa APBN kita aman adalah modal krusial.
Namun, fungsi media dan esensi dari sebuah editorial adalah mengingatkan agar optimisme tersebut tidak berubah menjadi kompromi atau mengaburkan realitas lapangan.
Mengatakan bahwa masyarakat pedesaan tidak menggunakan dolar adalah penyederhanaan yang cukup berisiko.
Secara tidak langsung, setiap kenaikan dolar akan mengerek biaya logistik, harga pupuk impor, pakan ternak, hingga bahan pangan pokok seperti kedelai dan gandum.
Cepat atau lambat, efek domino ini akan mengetuk pintu rumah-rumah di desa dalam bentuk kenaikan harga barang konsumsi harian.
Kita memegang janji pemerintah bahwa anggaran subsidi energi tetap aman dan harga BBM tidak akan naik hingga akhir tahun. Namun, ketahanan ini memiliki batas jika tekanan global berlangsung dalam jangka panjang.
Senyum optimistis Menkeu Purbaya dan ketegasan Presiden Prabowo harus dibayar lunas dengan efektivitas eksekusi di lapangan.
Langkah diversifikasi menjauhi ketergantungan dolar (dedollarization) melalui instrumen baru harus segera diakselerasi. Pemerintah tidak boleh terlena dengan narasi penenang yang mereka buat sendiri.
Di balik ketenangan yang diserukan kepada rakyat, kerja keras di ruang-ruang kebijakan harus ditingkatkan dua kali lipat.
Tujuan akhirnya adalah memastikan bahwa pasca krisis global ini, Indonesia benar-benar mencatatkan diri sebagai pemenang lewat eksekusi kebijakan yang tepat sasaran dan reformasi struktural yang nyata.*








