Krisis Literasi Gen Z Amerika, Banyak Mahasiswa Tak Bisa Membaca

Pasang Iklan Murah Meriah

CorongNews – Perguruan tinggi di Amerika Serikat tengah menghadapi masalah serius yang jarang dibicarakan: menurunnya kemampuan membaca mahasiswa Generasi Z. Fenomena ini membuat banyak dosen terpaksa menyesuaikan, bahkan menurunkan, standar akademik agar proses belajar tetap bisa berlangsung.

Laporan Fortune mengungkap kondisi tersebut setelah mewawancarai sejumlah pengajar di universitas-universitas ternama. Para profesor sepakat, mahasiswa baru kini kesulitan memahami teks bacaan dasar, apalagi materi akademik yang kompleks.

Dosen Terpaksa Hapus Tugas Membaca

Jessica Hooten Wilson, Profesor Sastra di Pepperdine University, mengaku mengalami kesulitan besar saat mengajar mahasiswa Gen Z. Menurutnya, masalah bukan hanya pada kemampuan berpikir kritis, tetapi sudah menyentuh kemampuan membaca kalimat secara utuh.

Ia bahkan terpaksa menghapus tugas membaca mandiri di luar kelas dan menggantinya dengan sesi membaca bersama di dalam kelas, kalimat demi kalimat. Namun, cara itu pun belum membuahkan hasil maksimal.

Bacaan Lainnya

“Saya akhirnya harus membacakan teks dengan suara keras karena tidak ada yang membaca sebelumnya,” ungkap Wilson.

“Bahkan saat dibaca bersama, banyak mahasiswa tetap tidak mampu memproses makna kata-kata di halaman,” tambahnya.

Bacaan Puluhan Halaman Kini Dianggap Mustahil

Situasi serupa terjadi di University of Notre Dame. Profesor Teologi Timothy O’Malley menyebut perubahan ini sebagai pergeseran besar dalam dunia akademik. Jika dulu ia memberi tugas membaca 25 hingga 40 halaman per pertemuan, kini jumlah tersebut dianggap terlalu berat bagi sebagian besar mahasiswa.

“Sekarang, jika diberi bacaan sebanyak itu, mereka sering kali tidak tahu harus mulai dari mana,” ujar O’Malley. Ia menambahkan, banyak mahasiswa Gen Z akhirnya mengandalkan ringkasan berbasis AI alih-alih membaca sumber asli.

Menurutnya, kebiasaan membaca mahasiswa telah terbentuk untuk sekadar scanning, bukan memahami isi secara mendalam.

Dampak Pandemi dan Dominasi Konten Video

Sejumlah akademisi menilai penurunan literasi ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada faktor struktural yang berperan, mulai dari sistem pendidikan yang melemah, gangguan pembelajaran selama pandemi COVID-19, hingga perubahan pola konsumsi informasi.

Generasi muda kini lebih akrab dengan konten video pendek, audio, dan media sosial, sementara teks panjang semakin jarang disentuh.

Data Nasional Perkuat Kekhawatiran

Kondisi ini tercermin dalam data nasional Amerika Serikat. Dalam dua dekade terakhir, jumlah orang dewasa yang membaca untuk hiburan turun hingga 40 persen. Survei Program for the International Assessment of Adult Competencies (PIAAC) juga menemukan sekitar 59 juta warga AS berada pada tingkat kemampuan membaca terendah.

Temuan tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar generasi muda hampir tidak siap menghadapi teks tertulis yang kompleks.

Bukan Masalah Terakhir Jika Tak Ada Perubahan

Para pengamat pendidikan memperingatkan, tanpa perubahan besar dalam sistem pembelajaran dan pendekatan literasi, Generasi Z kemungkinan bukan generasi terakhir yang mengalami penurunan kemampuan membaca dibanding pendahulunya.

Krisis ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan tinggi Amerika Serikat—dan mungkin juga negara lain—tentang masa depan literasi di era digital.*

V)

Pos terkait