AI Bisa Gantikan Banyak Pekerjaan, Tapi 6 Hal Ini Tak Bisa Ia Lakukan

Ilustrasi Artificial Intelegent (AI)
Pasang Iklan Murah Meriah

Jakarta, CorongNews – Penggunaan artificial intelligence (AI) kini semakin lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari bertanya, curhat, hingga membantu pekerjaan kantor, AI perlahan menjadi bagian dari rutinitas manusia.

Namun, di balik kemampuannya yang terus berkembang, AI juga memicu kekhawatiran soal masa depan pekerjaan.

Laporan Future Jobs 2025 dari World Economic Forum (WEF) memprediksi 170 juta lapangan kerja baru akan tercipta, sementara 92 juta pekerjaan berpotensi tergeser dalam lima tahun ke depan akibat AI dan otomatisasi. Sejumlah pekerjaan seperti kasir, petugas tiket, hingga administrasi diperkirakan terdampak paling besar.

Tiga Hal yang Tak Bisa Dilakukan AI

Dekan Sekolah Magister Management Globis University Jepang, Prof Satoshi Hirose, menegaskan bahwa ada batas jelas kemampuan AI.

Bacaan Lainnya

“AI tidak dapat melakukan tiga hal,” ujar Hirose saat berbincang dengan wartawan di Jakarta, Minggu (18/1/2026).

Pertama, membuat keputusan. Kedua, menentukan nilai-nilai, seperti keberlanjutan dan cara manusia berdampingan dengan alam. Ketiga, sense of mission atau tujuan hidup, yang dalam bahasa Jepang disebut kokorozashi.

Kokorozashi merujuk pada misi pribadi yang menyatukan gairah, keahlian, dan visi jangka panjang untuk memberi dampak positif bagi masyarakat.

Menurut Hirose, ketiga aspek ini justru perlu diperkuat oleh manusia, khususnya generasi muda yang selama ini banyak berkutat pada pekerjaan administratif.

Tiga Keunggulan Manusia atas AI

Pandangan serupa disampaikan ekonom Universitas Oxford, Carl Benedikt Frey. Ia menyebut manusia memiliki tiga keunggulan kompetitif dibandingkan AI, yakni interaksi sosial kompleks, kreativitas, dan resiliensi.

Interaksi sosial menjadi keunggulan utama karena AI belum mampu menandingi kecerdasan emosional dan komunikasi manusia. Studi Universitas Stanford bahkan menunjukkan keterampilan komunikasi akan semakin bernilai, sementara keterampilan teknis seperti analisis data cenderung menurun.

Dalam hal kreativitas, Frey menilai AI hanya mengulang pola dari data masa lalu. Sementara manusia mampu berpikir melampaui batas, menciptakan hal baru, dan mendobrak asumsi lama.

Adapun resiliensi atau ketahanan menjadi kemampuan penting lainnya. AI bekerja optimal di lingkungan statis, tetapi kesulitan beradaptasi di dunia nyata yang penuh perubahan. Karena itu, fleksibilitas dan daya tahan manusia akan semakin dibutuhkan di era AI.*

V)

Pos terkait