BANYUASIN | CorongNews – Kebijakan mendadak pemerintah yang menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax per 10 Juni 2026 memicu reaksi keras dan keterkejutan di tengah masyarakat.
Pengumuman yang dinilai tanpa sosialisasi matang ini langsung berdampak signifikan bagi warga di daerah, salah satunya di wilayah pesisir Sungsang, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin.
Adi (45), seorang warga Sungsang, dihubungi CorongNews melalui pesan WhatsApp Rabu malam (10/06/26) mengaku sangat terkejut dengan lonjakan harga yang terjadi secara tiba-tiba saat dirinya mengisi bahan bakar di pagi hari.
“Kaget kami, pagi tadi ngisi minyak 2 liter hargonyo Rp40.000,” ujar Adi dengan nada kecewa.
Lebih lanjut, Adi menyentil kembali pernyataan presiden terdahulu yang sempat menyebut bahwa masyarakat desa tidak terdampak langsung oleh dinamika global karena tidak berbelanja menggunakan mata uang dolar. Menurutnya, realitas di lapangan justru berbanding terbalik.
“Pak presiden ngomong masyarakat desa dak belanjo pake dolar, itu benar. Tapi beginilah dampak yang kami rasakan di dusun ini. Bahkan kami di sini sulit untuk dapat solar dan pertalite,” cetusnya.
Kondisi ini kian memperberat beban hidup masyarakat Sungsang yang mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan.
Keterbatasan akses dan kelangkaan pasokan BBM subsidi seperti Solar dan Pertalite memaksa mereka beralih ke Pertamax, yang kini harganya justru melambung tinggi.
Bagi wilayah sentra nelayan, ketersediaan energi adalah urat nadi perekonomian yang menentukan nasib melaut mereka.
Adi juga mengkritisi pola pengambilan keputusan pemerintah yang kerap mengumumkan perubahan harga komoditas penting pada malam hari, sehingga luput dari antisipasi publik.
“Cakmano kito nak tau kalau diumumkenyo pas kito la tiduk, padahal itu kebijakan yang menyangkut hajat hidup wong banyak. Kami meraso sebagai rakyat ini dizhalimi,” tegasnya.
Tekanan Global dan Ujian Kepercayaan Publik
Di sisi lain, Aktivis Buruh, Miftahul Firdaus (Avir), menilai bahwa pemerintahan di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran saat ini memang sedang dihadapkan pada posisi dilematis akibat situasi geopolitik dunia.
“Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran dalam keputusan sulit, tekanan global mempengaruhi kebijakan. Imbasnya, kebijakan energi untuk rakyat Indonesia pun mengalami pengaruh besar,” jelas Avir kepada CorongNews.
Meski memahami adanya tekanan eksternal, Avir menekankan pentingnya ruang dialog antara penguasa dan rakyat, serta perlunya langkah diplomasi yang lebih agresif di kancah internasional guna memitigasi dampak krisis energi di dalam negeri.
“Persoalannya, apakah pemerintah sekarang membuka opsi mendengarkan suara rakyat banyak? Apakah pemerintah Indonesia tidak membangun sinergitas dengan negara-negara lain?” tanyanya retoris.
Ia memperingatkan bahwa mengabaikan jeritan masyarakat bawah dan membiarkan ketidakpastian sentimen domestik terus berlarut dapat menjadi bumerang, tidak hanya di ranah politik tetapi juga stabilitas ekonomi.
“Jika pemerintah tidak mengindahkan suara rakyat, bersiap pemerintah kehilangan kepercayaan rakyat serta kehilangan kepercayaan pasar ekonomi global maupun nasional,” pungkas Avir. (*)








