Pelanggaran SOP Dibalik 200 Siswa Keracunan di Surabaya: Ketiadaan Pengawas Gizi

Pasang Iklan Murah Meriah

Surabaya | CorongNews – Badan Gizi Nasional (BGN) mengonfirmasi adanya pengabaian standar operasional prosedur (SOP) pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh, Surabaya.

Pelanggaran ini diduga menjadi pemicu keracunan massal yang menimpa lebih dari 200 siswa dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Melansir CNN, dalam rapat dengar pendapat di DPRD Kota Surabaya pada Rabu (13/5/26), Kusmayanti, selaku Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Surabaya, membeberkan bahwa salah satu kesalahan fatal adalah ketidakhadiran pengawas gizi saat bahan baku tiba di lokasi.

“Memang terjadi kesalahan penerapan SOP. SOP yang ditentukan BGN itu sudah baik, namun di SPPG yang bersangkutan terjadi kesalahan penerapan. Di antaranya, pengawas gizi tidak ada di tempat saat kualitas bahan baku datang,” jelas Kusmayanti.

Bacaan Lainnya

Kendala Barang Bukti dan Sampel Rusak

Absennya pengawas membuat pihak BGN kesulitan melacak apakah kerusakan terjadi pada tahap distribusi bahan atau saat proses memasak.

Masalah kian pelik karena sampel makanan yang seharusnya diuji di laboratorium justru rusak akibat penanganan yang tidak tepat sebelum Dinas Kesehatan datang.

“Harusnya ketika dikeluarkan ada treatment khusus dan dimasukkan ke cooler box, tidak dibiarkan di suhu ruangan. Akibatnya, hanya daging yang masih bisa diambil sampelnya,” tambah Kusmayanti.

Atas kejadian yang merupakan kasus perdana di Surabaya ini, BGN secara terbuka menyampaikan permohonan maaf.

“Dengan segala kerendahan hati kami memohon maaf. Ini menjadi catatan bagi kami untuk jauh lebih waspada dan lebih hati-hati dalam penerapan SOP,” ungkapnya.

Temuan Mengejutkan di Area Dapur

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Billy Daniel Messakh, turut mengungkap kondisi dapur yang jauh dari standar higienis.

Salah satu temuan krusial adalah proses pencairan (defrosting) daging beku yang dilakukan di lingkungan kotor.

“Daging itu dalam keadaan beku, di-defrost (dicairkan) di area yang tidak bersih. Prosesnya itu sekitar dua jam sampai daging layak potong. Selama itu lingkungan lalat cukup banyak,” beber Billy.

Ia juga menyoroti ketiadaan fasilitas pelindung dasar di area pengolahan makanan.

“Pintu masuk dapur itu juga harusnya ada penghalang plastik, itu juga tidak ada. Memudahkan sekali insect untuk keluar masuk,” tegasnya.

Kondisi Terkini Korban

Insiden yang terjadi pada Senin (11/5/26) ini berdampak pada sekitar 200 siswa dan guru dari 12 sekolah di wilayah Tembok Dukuh.

Meski mayoritas korban sudah kembali ke rumah, hingga Rabu (13/5/26), tercatat masih ada tujuh pasien yang menjalani observasi intensif di RSIA Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Surabaya.

Saat ini, pihak otoritas masih menanti hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab utama keracunan tersebut.*

Pos terkait