Dua Anak, 1 Luka Sosial : Rapuhnya Jiwa di Tengah Tekanan Keluarga

Ilustrasi
Pasang Iklan Murah Meriah

CorongNews – Kasus bunuh diri pada anak yang terjadi dalam waktu berdekatan belakangan ini mengguncang nurani publik. Dalam selang kurang dari satu bulan, dua peristiwa tragis terjadi di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dan Demak, Jawa Tengah.

Keduanya menyisakan duka mendalam sekaligus pertanyaan, bagaimana mungkin anak-anak, yang kerap kita anggap berada pada fase hidup paling ringan, memilih mengakhiri hidupnya?

Para ahli psikologi menegaskan bahwa bunuh diri pada anak hampir tidak pernah berdiri sebagai tindakan impulsif semata. Ia umumnya merupakan akumulasi tekanan batin yang berlangsung lama, lapisan demi lapisan beban emosional yang tak tertangani. Dalam kajian psikologi, kondisi ini kerap dikaitkan dengan hopelessness, rasa putus asa yang begitu pekat hingga anak tidak lagi melihat jalan keluar dari persoalannya.

Selama ini, ada asumsi keliru yang kerap kita pelihara, bahwa anak tidak memiliki beban sebesar orang dewasa. Mereka tidak memikul tanggung jawab ekonomi, tidak menanggung kewajiban sebagai orang tua, dan tidak menghadapi kompleksitas dunia kerja. Maka kita menganggap masa kanak-kanak identik dengan keceriaan dan keamanan.

Bacaan Lainnya

Namun, pandangan itu sering kali menutup mata kita terhadap realitas lain. Anak memang tidak memikul beban ekonomi keluarga, tetapi mereka sangat peka terhadap suasana rumah. Ketegangan orang tua, kesulitan finansial, pertengkaran, bahkan perubahan ekspresi dan nada bicara, dapat terekam kuat dalam batin mereka.

Anak mungkin tidak memahami detail persoalan, tetapi mereka merasakan dampaknya.

Kasus di Ngada diduga dipicu persoalan ekonomi dan disharmoni keluarga. Fakta bahwa seorang anak usia 10 tahun dapat sampai pada keputusan se-ekstrem itu menjadi alarm keras bagi kita semua.

Ini menunjukkan bahwa tekanan keluarga, betapapun “biasa” terlihat bagi orang dewasa, bisa terasa luar biasa berat bagi anak.

Sementara itu, kasus di Demak masih dalam pendalaman pihak kepolisian. Dugaan sementara mengarah pada kondisi emosional orang tua yang memicu tekanan terhadap anak.

Temuan percakapan pesan singkat antara korban dan ibunya dinilai menggambarkan kondisi mental sang anak saat itu, sebuah potret betapa komunikasi dalam keluarga dapat menjadi ruang aman, atau sebaliknya, menjadi sumber luka.

Usia 12 tahun merupakan masa transisi anak menuju fase remaja, di mana kondisi fisik dan emosi mulai mengalami perubahan dipengaruhi oleh proses pubertas. Anak mulai merasa lebih mandiri dan ingin membuat keputusan dan merasa berhak menentukan pilihan atas apa yang ia sukai.

Editorial ini tidak bertujuan menghakimi keluarga mana pun. Justru sebaliknya, kita perlu melihat fenomena ini sebagai cermin sosial. Bunuh diri pada anak bukan semata kegagalan individu atau keluarga, melainkan kegagalan kolektif dalam membangun ekosistem perlindungan mental bagi anak.

Bunuh diri juga bukan cara yang dibenarkan meski dengan alasan seburuk apaun kondisi yang dihadapi seseorang. Namun ketika ini dilakukan oleh anak-anak, maka ini tentu menjadi perhatian semua pihak. Terutama orang terdekat.

Pertama, kita perlu mengakui bahwa kesehatan mental anak sama pentingnya dengan kesehatan fisik mereka. Luka fisik terlihat dan segera diobati, tetapi luka batin sering kali dianggap sepele. Padahal, bagi anak, dimarahi di depan umum, dibanding-bandingkan dengan saudara, atau merasa tidak pernah cukup di mata orang tua bisa menjadi beban yang menggerogoti harga diri.

Kedua, komunikasi keluarga harus dibangun di atas empati, bukan semata disiplin dan tuntutan. Ekspektasi orang tua terhadap anak, prestasi akademik, perilaku, atau cita-cita, sering kali lahir dari niat baik. Namun tanpa ruang dialog, ekspektasi itu dapat berubah menjadi tekanan. Anak yang merasa gagal memenuhi harapan bisa memaknai dirinya sebagai beban.

Ketiga, peran sekolah dan lingkungan sosial tidak kalah penting. Guru, tetangga, dan kerabat perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti menarik diri, murung berkepanjangan, penurunan prestasi drastis, atau ungkapan keputusasaan. Sinyal-sinyal ini sering muncul sebelum tindakan ekstrem terjadi.

Kita juga perlu mendorong pemerintah daerah hingga pusat menggencarkan edukasi literasi kesehatan mental bagi orang tua.

Bimbingan konseling di sekolah harus proaktif dalam mengawal dan membaca sinyal-sinyal kondisi mental peserta didik, sehingga dapat menjadi ruang berbagi yang nyaman dan aman bagi anak-anak.

Tragedi di Ngada dan Demak hendaknya tidak berhenti sebagai deretan berita duka. Ia harus menjadi titik balik kesadaran kita. Anak-anak memang belum memikul tanggung jawab besar seperti orang dewasa, tetapi mereka memikul harapan, ketakutan, dan perasaan yang sama nyatanya.

Jika kita ingin mencegah tragedi serupa terulang, kita harus mulai dari hal paling mendasar, yakni mendengar. Mendengar tanpa menghakimi. Mendengar tanpa menyela. Mendengar bukan untuk membalas, tetapi untuk memahami.

Sebab sering kali, yang dibutuhkan seorang anak bukan solusi rumit, melainkan satu keyakinan sederhana, bahwa ia tidak sendirian.* (Redaksi)

v)

Pos terkait