Rupiah Tembus Rp17.720 per Dolar AS, SERBU METAL Ingatkan Ancaman Gelombang PHK

Pasang Iklan Murah Meriah

Palembang | CorongNews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah hingga menyentuh angka Rp17.720. Lonjakan tajam mata uang asing ini mulai memicu alarm bahaya bagi perekonomian domestik.

Serikat Buruh Merah Total (SERBU METAL) memperingatkan bahwa kondisi ini berpotensi besar memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal di berbagai sektor industri di Indonesia.

Secara sederhana, pelemahan rupiah membuat harga barang-barang yang diimpor oleh Indonesia melonjak drastis. Ironisnya, situasi ini berbanding terbalik dengan sektor ekspor Indonesia yang belum mampu mengompensasi beban biaya tersebut.

Akibatnya, para importir dipastikan akan menaikkan harga jual di tingkat konsumen demi menutupi membengkaknya biaya operasional.

Bacaan Lainnya

6 Sektor Krusial yang Paling Terdampak

Berdasarkan pengamatan SERBU METAL, terdapat enam komoditas dan sektor utama yang paling terpukul oleh tingginya nilai dolar AS, antara lain:

  1. Mesin dan Peralatan Industri

    Alat-alat berat yang digunakan untuk sektor manufaktur, konstruksi, dan pembangunan infrastruktur mayoritas masih didatangkan dari luar negeri. Kenaikan dolar langsung melambungkan modal proyek.

  2. Bahan Baku Industri

    Komoditas vital seperti bahan kimia, plastik, hingga besi dan baja mengalami kenaikan harga. Sektor manufaktur lokal sangat bergantung pada bahan-bahan ini.

  3. Minyak dan Gas Bumi (Migas)

    Akibat keterbatasan kapasitas kilang domestik, Indonesia masih aktif mengimpor BBM dan minyak mentah. Melemahnya rupiah otomatis akan memperberat subsidi energi atau memicu kenaikan harga BBM.

  4. Elektronik dan Komponen

    Industri teknologi dalam negeri terancam pincang karena harga semikonduktor, chip, perangkat telekomunikasi, komputer, hingga komponen ponsel pintar meroket.

  5. Komoditas Pangan Tertentu

    Ketergantungan terhadap impor pangan seperti gandum, kedelai, gula, bawang putih, hingga beras membuat harga kebutuhan pokok di pasar domestik ikut terkerek naik.

  6. Kendaraan dan Suku Cadang

    Industri otomotif dipastikan terdampak karena rantai pasok suku cadang (onderdil) sebagian besar masih bertransaksi menggunakan mata uang dolar AS.

Efisiensi Ekstrem: Buruh Jadi Korban Pertama

Tingginya nilai dolar AS terhadap rupiah secara otomatis mengerek ongkos produksi di berbagai lini industri menjadi sangat mahal.

Ketika margin keuntungan menipis dan daya beli masyarakat melemah akibat kenaikan harga barang, perusahaan akan dihadapkan pada pilihan sulit.

“Jika situasi ini terus berlanjut tanpa intervensi strategis dari pemerintah, perusahaan dipastikan akan melakukan efisiensi ketat. Langkah terjauh dan paling pahit yang akan diambil adalah melakukan PHK massal terhadap buruh dan pekerja,” kata Ketua SERBU METAL, Miftahul Firdaus atau yang biasa disapa Avir kepada CorongNews, Selasa (19/05/26).

Kini, bola panas ada di tangan pemerintah dan Bank Indonesia untuk meredam gejolak nilai tukar ini, sebelum dampak domino pemotongan hubungan kerja benar-benar melumpuhkan daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional.

“Buruh mungkin tidak belanja pakai dolar, tapi dampak kenaikan dolar ini langsung mencekik dapur mereka melalui harga sembako yang naik dan ancaman hilangnya pekerjaan,” tegas Avir.*

Pos terkait