Jakarta | CorongNews – Sebagai langkah konkret menekan konsumsi energi nasional, pemerintah secara resmi menetapkan kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN). Kebijakan ini dijadwalkan berlaku satu kali dalam sepekan, tepatnya setiap hari Jumat.
Kepastian tersebut disampaikan langsung oleh Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam konferensi pers di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (31/3/26).
“Penerapan work from home bagi ASN di pusat dan daerah yang dilakukan sebanyak satu hari kerja dalam seminggu, yaitu hari Jumat,” tegas Airlangga.
Keputusan ini memicu diskusi hangat di tengah masyarakat, terutama mengenai pemilihan hari Jumat sebagai waktu transisi menuju akhir pekan.
Analisis Psikologi: Jumat sebagai Hari Transisi
Psikolog Industri dan Organisasi, Danti Wulan, menilai pemilihan hari Jumat memiliki kaitan erat dengan dinamika mental pekerja. Menurutnya, Jumat sering kali menjadi buffer atau penyangga sebelum masa pemulihan dimulai.
“Secara psikologis, Jumat sering kali dianggap sebagai ‘hari transisi’, di mana energi mental mulai bergeser dari fokus tugas menuju pemulihan atau recovery,” ujar Danti dikutip Kompas, Rabu (1/4/2026).
Danti melihat kebijakan ini memiliki dua sisi mata uang:
Peningkatan Otonomi: Memberikan kepercayaan pada ASN untuk mengatur lingkungan kerjanya sendiri. “Secara psikologis, ketika seseorang merasa dipercaya dan memiliki kontrol atas lingkungan kerjanya, motivasi intrinsik cenderung meningkat,” tambahnya.
Peredam Stres: Menghilangkan beban komuter di akhir pekan dapat membantu proses unwinding atau melepas penat lebih dini tanpa memangkas jam kerja, yang efektif mencegah burnout.
Risiko Penurunan Fokus dan “Vibe” Setengah Libur
Meski bermanfaat bagi kesehatan mental, Danti memperingatkan adanya risiko kognitif. Lingkungan rumah yang terlalu santai bisa memicu persepsi bahwa Jumat adalah “hari setengah libur”.
“Secara kognitif, otak cenderung melakukan offloading atau melepaskan beban tugas lebih cepat karena lingkungan rumah yang terlalu santai yang berpotensi menurunkan ketajaman eksekusi tugas,” paparnya.
Terkait produktivitas, Danti menyinggung Parkinson’s Law, di mana durasi pekerjaan cenderung molor mengikuti waktu yang tersedia. Ia menekankan bahwa keberhasilan WFH sangat bergantung pada regulasi diri masing-masing individu. Menuntaskan pekerjaan sebelum Sabtu-Minggu juga penting untuk menghindari Zeigarnik effect—kondisi di mana otak terus terbebani oleh tugas yang belum rampung.
Strategi Tetap Produktif di Hari Jumat
Agar kebijakan ini tetap menghasilkan output berkualitas, Danti membagikan beberapa tips praktis:
Untuk Skema WFH/WFA:
Metode Eat the Frog: Selesaikan tugas terberat di pagi hari (pukul 08.00 – 10.00). “Jangan biarkan tugas sulit menggantung hingga sore hari saat weekend vibe sudah memuncak,” saran Danti.
Environment Priming: Tetap berpakaian rapi dan tentukan area kerja khusus. Hal ini memberi sinyal pada otak untuk tetap dalam mode kerja.
Time Blocking: Gunakan hari Jumat khusus untuk koordinasi dan laporan agar tidak ada pekerjaan yang “menyeberang” ke hari Sabtu.
Untuk Skema WFO (Hari Kerja Kantor):
Batching Communication: Selesaikan semua urusan yang memerlukan diskusi tatap muka saat di kantor.
Social Connection: Gunakan waktu di kantor untuk memperkuat hubungan interpersonal sebagai faktor ketahanan mental.
Danti menyimpulkan bahwa kunci kesuksesan kebijakan ini bukan terletak pada lokasinya. “Melainkan pada kejelasan Target Harian yang ditetapkan oleh atasan dan disiplin pribadi individu,” tutupnya.*








