Palembang, corongnews.com
Kebebasan adalah hak segala bangsa.
Begitu juga kebebasan untuk perempuan bukan? Kebebasan dalam mengejar cita-cita, kebebasan dalam mengekspresikan diri, kebebasan dalam memutuskan, kebebasan dalam segala hal. Namun, nyatanya dunia yang kita tinggali ini masih menyisakan jejak patriarki yang sangat kental. Kebebasan perempuan bukanlah kebebasan yang benar-benar bebas. Perempuan meskipun sebagian sudah menduduki jajaran direksi di perusahaan-perusahaan, tetapi sebagian besar lain masih ada di bawah garis kekuasaan laki-laki. Sudah kodrat perempuan untuk tunduk dan patuh kepada laki-laki, setidaknya itu yang dikatakan beberapa orang.
Periode 2017-2022 World Values Survey (WVS), lembaga riset internasional yang berkantor pusat di Austria melakukan survei dan menemukan bahwa mayoritas warga Indonesia tampaknya lebih menyukai pemimpin berjenis kelamin laki-laki ketimbang perempuan. Selanjutnya, berdasarkan provinsi, pada tahun 2022 masih ada 19 provinsi yang memiliki Indeks Ketimpangan Gender di atas IKG nasional (0,459). Sebelas di antaranya berada di wilayah Indonesia timur. Hal ini mungkin mengindikasikan bahwa kesenjangan gender di wilayah Indonesia timur cenderung lebih besar daripada di wilayah lainnya di Indonesia. Indeks Ketimpangan Gender (IKG) menggunakan tiga dimensi untuk membentuk indeksnya, yaitu dimensi kesehatan reproduksi, dimensi pemberdayaan, dan dimensi pasar tenaga kerja.
Dari hasil survei yang telah dilakukan oleh dua lembaga tersebut, bisa dikatakan bahwa Indonesia masih memiliki masalah ketimpangan gender. Terutama pemenuhan hak untuk perempuan. Masalah ini memicu munculnya pemikiran dilematis dalam diri perempuan ketika mereka ingin mengejar karir atau impian, masyarakat akan menaruh stereotipe bahwa perempuan itu tidak laku jika ia tak kunjung menikah. Sementara ketika sudah sibuk menjadi seorang Ibu, terkadang sang suami tidak bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga. Mau tak mau perempuan harus turun tangan membantu suami. Di sinilah letak dilema bagi perempuan muda yang belum menikah, akankah mereka harus menikah dulu atau harus bekerja terlebih dulu?
Perempuan dan Gelas Impian
Perempuan bersekolah sampai perguruan tinggi dibentuk menjadi perempuan mandiri sejak awal. Sudah jelas dalam benaknya perempuan pasti memiliki keinginan. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, persentase penduduk perempuan berusia 15 tahun ke atas yang memiliki ijazah perguruan tinggi lebih banyak daripada penduduk laki-laki. Persentase perempuan yang pernah menamatkan perguruan tinggi mencapai 10,06% pada 2021, sedangkan laki-laki 9,28%. Hal ini membuktikan bahwa kesadaran pendidikan lebih tinggi ada dalam diri perempuan.
Namun, pekerjaan dengan gaji tinggi kebanyakan memiliki pressure dan jam kerja yang tinggi. Misalnya saja auditor yang harus lembur sampai malam untuk mengaudit laporan-laporan keuangan. Hal ini menjadi masuk akal kenapa di perusahaan-perusahaan multinasional kebanyakan auditor adalah laki-laki, karena laki-laki lebih tahan dengan tekanan seperti itu dan mereka bisa fokus bekerja meskipun sudah memiliki keluarga. Sedangkan perempuan? Mereka ketika menikah tidak mungkin meninggalkan keluarganya seharian dari pagi sampai malam untuk bekerja. Mereka masih memiliki tugas rumah tangga, sekalipun memiliki seorang pembantu dan baby sister, perempuan masih bukan dianggap perempuan jika tidak mendidik anaknya secara pribadi. Setidaknya itulah yang akan dikatakan sanak saudara, keluarga, atau tetangga. Namun mengapa perempuan harus peduli apa yang dikatakan mereka? Toh mereka juga sama-sama perempuan. Ironinya perempuan memang paling pandai menghakimi perempuan lain.
Metafora Ibu yang Baik
Bagaimana sebenarnya sosok ibu yang baik? Ibu yang ada di rumah mengurus semua keperluan anak-anaknya? Ibu yang menyiapkan makanan sehat dan bergizi? Ibu yang mendidik anaknya mulai dari belajar mengenal huruf, belajar membaca, atau pendidikan moral lainnya? Ibu yang punya waktu sehari penuh untuk keluarga? Atau justru Ibu yang tidak membiarkan anak-anaknya menderita, tidak membiarkan mereka makan seadanya, tidak membiarkan anak-anaknya diejek teman lain karena tidak bisa membeli mainan yang diinginkan. Sebenarnya apa itu sosok Ibu yang baik?
Sosok Ibu yang baik adalah semua perempuan. Baik dia yang bekerja atau dia yang menjadi ibu rumah tangga. Dia yang mengusahakan sekuat mungkin untuk kebaikan dan kenyamanan anak-anaknya. Sebab tidak semua anak mempunyai ayah yang bertanggung-jawab, tidak semua perempuan bisa menggantungkan hidupnya pada laki-laki, adakalanya perempuan harus menjadi keduanya, sosok ibu sekaligus ayah.
Dilematika Perempuan
Perempuan bisa apa saja sebenarnya. Memasak nasi, mengikat dasi, memimpin negeri, bahkan melahirkan bayi. Perempuan diciptakan lemah dalam perasaan agar kelembutannya menjadi ketenangan dalam rumah. Namun, perempuan juga diberikan kuat dalam kecerdasan agar ia bisa menjadi pemimpin di luar rumah. Sudah kodrat perempuan untuk patuh pada laki-laki, tetapi juga kewajiban laki-laki untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, mengapa tak diusahakan bersama oleh keduanya? Rumah tangga dibangun oleh berdua, bukan salah satu menjadi beban.
Namun, di sinilah perempuan-perempuan muda masih bergelut dengan dilemanya. Apakah setelah lulus kuliah mereka akan menikah kemudian membesarkan anak-anaknya dengan pendidikan tinggi yang ia miliki? Sampai nanti mereka sadar bahwa menjadi istri tidaklah mudah jika memiliki suami bergaji pas-pasan dan melihat teman lain bisa merawat diri dengan uang yang dihasilkan sendiri. Apakah mereka mungkin akan bekerja dan mencapai segala sesuatu yang dicita-citakan sendiri, menjadi cantik dan kaya? Sampai nanti akhirnya mereka sadar bahwa mereka kesepian dan membutuhkan keluarga kecil yang menenangkan. Kepada perempuan, pilihlah pilihan yang risikonya bisa kalian toleransikan, entah menjadi ibu rumah tangga entah berkarir atau keduanya. Perempuan masih menjadi pemilik kebebasan yang paling bebas atas dirinya sendiri.
Penulis : Arima Reskia Salfira
Fakultas ilmu sosial dan politik UIN Raden Fatah Palembang







