Greenland; Harta Karun di Balik Pulau Es Raksasa

greenland
Pasang Iklan Murah Meriah

CorongNews – Siapakah pemilik Greenland? Pertanyaan ini bergema sepanjang sejarah, mungkin dimulai pada zaman Viking. Tetapi sejak Perang Dunia Kedua, kepemilikan Greenland telah mengambil signifikansi geopolitik yang lebih besar dan terus berkembang.

Tertutup oleh lapisan es dan tundra yang terjal, Greenland adalah pulau terbesar di dunia. Greenland berada di perairan dingin Atlantik Utara dan melintasi lingkaran Arktik. Lanskap yang jarang penduduknya ini telah lama tampak berada di pinggiran geopolitik dan sejarah dunia.

Namun Greenland selalu lebih penting daripada yang mungkin diasumsikan oleh banyak orang. Bahkan, Greenland dapat mengeklaim signifikansi strategis yang mencakup berabad-abad. Pulau ini terjalin dengan banyak sejarah, dari Viking hingga kekuatan super Perang Dingin.

“Semuanya berusaha untuk memaksakan visi mereka terhadap Greenland,” tulis James Osborne.

Bacaan Lainnya

Siapa yang telah memiliki Greenland sepanjang sejarahnya. Dan mengapa pulau ini menjadi harta karun bagi yang memiliki kepentingan strategis?

Siapa pemilik Greenland?

Greenland dimiliki oleh Denmark, tetapi beroperasi sebagai wilayah otonom dan berpemerintahan sendiri.

Pulau ini secara resmi dimasukkan ke dalam Kerajaan Denmark pada tahun 1953, tapi sejak itu semakin independen dari negara berdaulatnya. Greenland memberlakukan undang-undang yang meningkatkan tanggung jawab atas pemerintahannya sendiri.

Apakah Greenland merupakan sebuah negara?

“Greenland secara resmi bukanlah sebuah negara, tetapi sebuah wilayah di dalam Kerajaan Denmark yang sedang menuju ke arah pemerintahan sendiri,” ungkap Osborne.

Greenland sekarang mengatur dirinya sendiri dalam sebagian besar urusan domestik. Termasuk pendidikan, kesehatan, dan sumber daya alam. Namun Denmark tetap memegang kendali atas pertahanan dan urusan luar negeri.

Apakah Greenland merupakan bagian dari Amerika Utara?

Secara geografis, Greenland adalah bagian dari benua Amerika Utara.

Landasan luasnya terletak di lempeng tektonik Amerika Utara, dan lebih dekat ke Kanada daripada ke Eropa.

Namun, Greenland ditempatkan dengan kuat dalam lingkup budaya dan politik Eropa. Khususnya melalui hubungannya yang panjang dengan Denmark.

Tetapi tidak selalu seperti ini.

Sejarah panjang kepemilikan Greenland

Selama ribuan tahun prasejarah, Paleo-Eskimo menjelajahi Greenland untuk memanfaatkan potensinya melalui akses ke lahan perburuannya yang luas. Namun, kelangsungan hidup bagi populasi ini merupakan tantangan yang terus-menerus. Untuk bertahan hidup di Greenland, dibutuhkan pengetahuan mendalam tentang pergeseran es dan penguasaan ritme musim Arktik.

Greenland terus menyediakan rumah bagi populasi kecil yang singgah, setidaknya selama 4.500 tahun. Hal tersebut terjadi hingga kedatangan Erik the Red antara tahun 982 dan 985 M.

Kedatangan Erik the Red

“Kepemilikan” Greenland yang sebenarnya dalam arti formal dapat ditelusuri hingga kedatangan Erik the Red pada akhir abad ke-10.

Diusir dari Islandia karena melakukan pembunuhan, Erik berlayar ke barat dan menemukan Greenland. Ia memikat para pemukim dengan cara menipu.

Taktik ini berhasil: permukiman kecil berakar di sepanjang pantai barat daya pulau itu. Selama berabad-abad, para pemukim bertahan hidup, mencari nafkah melalui pertanian dan perdagangan dengan Eropa. Hal tersebut terus dilakukan bahkan ketika mereka berjuang melawan hawa dingin yang mengancam dari Zaman Es Kecil.

Para Viking Greenland ini begitu terkenal sehingga mereka menjadi subjek saga mereka sendiri, Saga Greenland. Saga tersebut menceritakan bagaimana putra Erik, Leif Erikson, berlayar ke barat dari Greenland dan mencapai Vinland (Newfoundland).

Saga ini juga menceritakan kisah dramatis Freydís Eiríksdóttir, putri Erik. Eksploitasinya yang berani dan brutal telah mengukuhkan tempatnya dalam sejarah Viking.

Bangsa Norse melihat Greenland sebagai pos terdepan mereka yang jauh. Tapi pulau itu sebenarnya tidak pernah sepenuhnya menjadi milik mereka. Pada abad ke-15, ketika Zaman Viking memudar, permukiman Norse di pulau itu telah lenyap. Permukiman itu bak ditelan oleh kombinasi tantangan perubahan iklim, isolasi, dan pergeseran jalur perdagangan.

Klaim Denmark atas Greenland

Greenland mungkin akan hilang dari peta Eropa jika bukan karena Hans Egede, seorang misionaris Denmark-Norwegia dengan visi yang berani. Pada tahun 1711, Egede memulai kampanye untuk meyakinkan kerajaan agar mendukung perjalanannya ke Greenland.

Tujuannya adalah untuk mengubah para pemukim Norse yang tersisa menjadi Kristen. Egede meyakini bahwa orang Norse masih mendiami pulau itu, berpotensi kembali ke paganisme Norse.

Tiba di Greenland pada tahun 1721 dengan sekelompok kecil kapal, Egede malah menemukan komunitas Inuit. Komunitas itu hidup di dunia yang sangat berbeda dari dunianya sendiri dan dari apa yang dia antisipasi.

Meskipun demikian, Egede tetap tinggal di Greenland. Karena tidak adanya populasi Norse yang diharapkannya, ia menjalin hubungan dengan orang-orang Inuit Kalaallit Greenland.

Misi ini menandai awal klaim modern Denmark atas Greenland. Egede mendirikan ibu kota pulau itu, Godthåb, yang sekarang dikenal sebagai Nuuk, selama masa tinggalnya di pulau tersebut.

Mengapa Greenland begitu penting bagi Amerika Serikat?

Pendudukan Jerman atas Denmark pada tahun 1940 menempatkan Greenland di pusat perhatian. Terputus dari pelindung kolonialnya, Greenland kini beralih ke Amerika Serikat untuk perlindungan. Amerika mengincar posisi strategis Greenland di Atlantik Utara. Mereka pun cepat mendirikan pangkalan di sana untuk berjaga-jaga terhadap serangan Nazi.

Pangkalan-pangkalan ini didirikan di pantai barat dan timur untuk mengirim pesawat ke Eropa. Greenland juga menyediakan pangkalan tempat pasukan Sekutu dapat melancarkan serangan terhadap kapal selam Jerman. Hal ini menjadikan pulau itu sebagai pangkalan selama Pertempuran Atlantik; pertempuran militer terpanjang yang berkelanjutan dalam perang.

Sementara itu, Greenland menawarkan peluang unik untuk mengumpulkan intelijen meteorologi untuk prakiraan cuaca. Saat itu Sekutu berusaha untuk mendapatkan keuntungan atas militer Jerman.

Oleh karena itu, pada tahun 1941, penduduk Greenland dan Amerika bersama-sama mendirikan Patroli Kereta Luncur (The Sledge Patrol) yang terdiri dari tim-tim kecil dan lincah.

Tim tersebut terdiri dari penduduk Greenland dan anjing kereta luncur. Tugasnya adalah untuk menemukan dan menghancurkan stasiun-stasiun Jerman yang baru muncul.

Pada saat Perang Dunia Kedua berakhir pada tahun 1945, posisi Greenland dalam keamanan global menjadi sangat jelas.

Ketika Perang Dingin segera dimulai, zona Arktik kini menjadi arena yang sangat penting secara strategis. Padahal, zona itu dulunya dianggap sebagai hal yang kurang penting.

Oleh karena itu, Amerika Serikat menyewa lahan dari Denmark untuk sekali lagi memanfaatkan peluang Greenland. Amerika Serikat membangun Pangkalan Udara Thule, sebuah pilar dalam sistem peringatan dini terhadap serangan rudal Soviet.

Bagi militer Amerika, Greenland bukan lagi gurun beku tetapi bidak catur yang berharga dalam permainan kekuasaan global. Lokasinya, yang membentang di Amerika Utara dan Eropa, menjadikannya sangat diperlukan.

Namun, bagi suku Inuit yang tinggal di dekat Thule, transformasi mendadak ini datang dengan harga yang mahal. Seluruh komunitas dipindahkan untuk memberi jalan bagi pangkalan tersebut. Kehidupan mereka terganggu oleh keputusan yang dibuat ribuan kilometer jauhnya.

Perang Dingin mungkin telah berakhir, tetapi potensi Greenland dalam permainan geopolitik justru semakin meningkat – dan secara substansial.

Greenland saat ini

Sejak saat itu, pencairan es telah mengungkap cadangan minyak, gas, dan mineral langka yang sangat besar. Lagi-lagi, hal ini kembali memicu minat dari perusahaan dan pemerintah internasional.

Rute pelayaran baru, yang dimungkinkan oleh perubahan iklim, telah menempatkan Greenland di pusat perdagangan Arktik. Seiring dengan berjalannya waktu, kendali Denmark atas pulau itu pun kian melemah.

Greenland memperoleh pemerintahan sendiri pada tahun 1979 dan otonominya lebih ditingkatkan pada tahun 2009. Setelah itu, Greenland menempuh jalan menuju penentuan nasib sendiri, sambil tetap mempertahankan posisinya sebagai wilayah Denmark.*

V)

Pos terkait