Rasuna Said dan Perjuangan Melawan Ketidakadilan bagi Perempuan Indonesia

Pasang Iklan Murah Meriah

CorongNews – Indonesia memiliki banyak pahlawan perempuan inspiratif. Salah satu tokoh yang menonjol adalah HR. Rasuna Said, seorang orator ulung yang gigih memperjuangkan martabat dan hak-hak perempuan Indonesia.

Keberaniannya dalam menyuarakan keadilan membuatnya disegani, bahkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Atas jasanya, namanya kini diabadikan sebagai salah satu jalan protokol di Ibu Kota Jakarta.

Rasuna Said lahir pada 14 September 1910 di Agam, Sumatera Barat. Ia memiliki nama lengkap Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Ayahnya bernama Muhammad Said. Berasal dari keluarga terpandang di Minangkabau, ia tumbuh dalam lingkungan religius dan terdidik.

Sejak kecil, Rasuna Said aktif mengikuti pengajian. Ia melanjutkan pendidikan ke pesantren Ar-Rasyidiyah setelah lulus sekolah dasar. Di sana, ia menjadi satu-satunya santri perempuan, menunjukkan tekad dan keberaniannya menembus batas tradisi saat itu.

Bacaan Lainnya

Memasuki usia remaja, Rasuna melanjutkan pendidikan di Diniyah Putri Padang Panjang. Setelah menamatkan sekolah, ia mengajar di sana. Selain mengajarkan ilmu agama, ia juga menanamkan semangat kepada murid-murid perempuan agar berani bercita-cita tinggi dan melawan perlakuan tidak adil terhadap kaum wanita.

Menurut Jajang Jahroni dalam buku Haji Rangkayo Rasuna Said: Pejuang Politik dan Penulis Pergerakan (2002), Rasuna menikah pada usia 19 tahun dengan Duski Samad, yang juga menjadi mentornya. Meski pernikahan tersebut sempat menuai penolakan karena perbedaan latar belakang keluarga, hubungan itu akhirnya berakhir dengan perceraian.

Rasuna dikenal menentang praktik poligami. Ia memilih berpisah daripada dimadu. Sikapnya itu tercermin dalam sajak yang termuat dalam buku The Indonesian Women Struggle and Achievements karya Cora Vreede-de Stuers (1970):

..Itu memang ketentuan adat
..Agama pun menetapkan demikian
..Biarkan suamimu pergi dengan tenang
..Biarkan ia tersenyum dan bernyanyi
..Dan kau jangan sakit hati

Pada usia 20 tahun, ia berhenti mengajar karena merasa perubahan besar tidak cukup dilakukan dari ruang kelas. Ia kemudian aktif dalam organisasi pergerakan perempuan dan kebangsaan.

Rasuna bergabung sebagai sekretaris Sarekat Rakyat (SR) dan aktif di gerakan Islam modern Sumatra Thawalib. Sekitar tahun 1930, ia ikut mendirikan Persatoean Moeslimin Indonesia (PERMI) di Bukittinggi.

Dalam berbagai kegiatan sosial, Rasuna dikenal sebagai orator yang lantang membela hak perempuan. Ia juga berani mengkritik pemerintah kolonial Belanda. Pidato-pidatonya mendapat dukungan rakyat pribumi, tetapi dianggap mengancam oleh penguasa kolonial.

Pada 1932, ia diasingkan ke Semarang dalam usia 22 tahun. Meski mengalami penahanan, semangat perjuangannya tidak surut.

Sekitar 1935, Rasuna mulai aktif sebagai jurnalis. Ia menulis kritik tajam terhadap kebijakan kolonial dan sempat memimpin redaksi Majalah Raya di Semarang. Ia tetap aktif di PERMI, sebelum akhirnya pindah ke Medan karena dinamika pergerakan di Semarang.

Pada usia 27 tahun, Rasuna mendirikan Perguruan Poeteri di Medan. Ia juga menerbitkan majalah mingguan Menara Poeteri. Melalui media ini, ia terus menyuarakan hak perempuan sekaligus semangat antikolonialisme. Slogannya bahkan sejalan dengan semangat perjuangan Soekarno: “Ini dadaku, mana dadamu.”

Namun karena keterbatasan dana, penerbitan majalah tersebut tidak bertahan lama. Rasuna kemudian kembali ke Sumatera Barat dan tetap aktif berorasi tentang emansipasi perempuan dan kemerdekaan Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, Rasuna tetap terlibat dalam berbagai organisasi dan lembaga negara. Ia pernah aktif di Komite Nasional Indonesia, Badan Penerangan Pemuda Indonesia, serta menjadi anggota Dewan Perwakilan Sumatera, DPR Republik Indonesia Serikat, dan Dewan Pertimbangan Agung.

Rasuna Said wafat di Jakarta pada 2 November 1965 dalam usia 55 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Sebagai bentuk penghormatan atas perjuangannya membela hak perempuan dan kemerdekaan bangsa, pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada 1974. Namanya kini diabadikan sebagai salah satu jalan utama di kawasan Kuningan, Jakarta.

Rasuna Said dikenal sebagai sosok perempuan berpikiran maju. Ia meyakini bahwa perempuan Indonesia harus merdeka dalam berpikir, berani memperjuangkan haknya, serta turut ambil bagian dalam perjuangan bangsa.*

v)

Pos terkait