CorongNews – Di ruang gelap dan dingin laboratorium Mesir, Maurice Bucaille menatap mumi Ramses II yang telah terbaring ribuan tahun. Sebagai seorang dokter bedah Prancis ternama, Bucaille terbiasa menilai tubuh manusia dengan ketelitian ilmiah.
Tapi kali ini, sesuatu yang berbeda menyentuh hatinya, pertanyaan tentang kehidupan, sejarah, dan kebenaran yang lebih besar.
Bucaille lahir di Pont-l’Évêque, Prancis, pada 1920, dan menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Paris. Ia meraih gelar dokter bedah dan segera membangun reputasi yang mengesankan.
Dalam kariernya, Bucaille dikenal sebagai dokter yang kompeten, berwawasan luas, dan dihormati rekan-rekannya.
Ia menjadi anggota beberapa lembaga medis bergengsi di Prancis, menangani kasus-kasus sulit, dan sering diundang sebagai konsultan internasional.
Keahliannya di bidang bedah menjadikannya salah satu dokter top di negaranya, dan namanya dikenal luas baik di kalangan ilmuwan maupun masyarakat umum.
Namun di balik semua kesuksesan itu, rasa ingin tahunya akan kebenaran tidak pernah padam. Ia selalu merasa ada “pertanyaan yang lebih besar” di luar ruang operasi dan laboratorium pertanyaan yang kelak membimbingnya ke jalan spiritual yang mengejutkan dunia.
Titik Balik: Penelitian Mumi Ramses II
Pada 1975, pemerintah Mesir meminta bantuan Prancis untuk meneliti mumi Ramses II yang mengalami kerusakan. Maurice Bucaille ditunjuk memimpin tim medis internasional. Saat meneliti mumi kuno tersebut, ia menemukan fakta mengejutkan terkait penyebab kematian Ramses II, yang tampaknya selaras dengan kisah Al-Quran tentang Firaun yang tenggelam saat mengejar Nabi Musa dan Bani Israel.
Pertanyaan besar muncul di benaknya: Bagaimana mungkin kitab yang berusia ribuan tahun bisa menyinggung fenomena yang baru bisa dibuktikan oleh sains modern? Pertanyaan ini menjadi awal dari pencarian spiritual yang panjang.
Menemukan Kebenaran di Al-Quran
Bucaille mulai mempelajari Al-Quran secara serius. Ia membaca, menganalisis, dan membandingkan teks suci itu dengan ilmu pengetahuan modern. Ia menemukan banyak kesesuaian yang mengejutkan antara wahyu Al-Quran dan penemuan ilmiah.
Refleksi ini dituangkan dalam bukunya “La Bible, le Coran et la Science” (Alkitab, Al-Quran, dan Sains), diterbitkan pada 1976.
Buku ini menelusuri keselarasan antara wahyu Al-Quran dan ilmu pengetahuan modern, mendapat perhatian luas, diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan menjadi referensi penting di dunia Islam maupun Barat.
Memeluk Islam: Puncak Pencarian Spiritual
Setelah perjalanan panjang antara logika ilmiah dan pencarian spiritual, Maurice Bucaille memutuskan memeluk Islam. Keputusannya bukan impulsif; ini adalah hasil pencarian intelektual dan spiritual yang mendalam.
Islam baginya adalah kebenaran yang selaras dengan ilmu pengetahuan dan rasionalitas.
Warisan dan Pengaruh
Maurice Bucaille meninggal pada 1998, namun pengaruhnya tetap hidup. Karyanya membuka dialog antara sains dan agama, menunjukkan bahwa iman dan ilmu pengetahuan tidak harus bertentangan, melainkan bisa saling melengkapi.
Kisah hidup Bucaille mengajarkan bahwa pencarian kebenaran bisa membawa seseorang ke arah yang tak terduga.
Dari seorang dokter bedah sukses hingga menjadi Muslim yang taat, Bucaille menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan keimanan bisa berjalan beriringan, memperdalam pemahaman manusia tentang dunia dan eksistensi mereka.*
Editor : Noviani DP




