CorongNews – Harga minyak global melonjak tajam saat perdagangan dibuka pada Minggu (1/3/2026), menyusul serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, serta serangan balasan ke Israel dan fasilitas militer AS di wilayah Teluk.
Ketegangan ini memicu kekhawatiran gangguan pada rantai pasok energi dunia.
Para pelaku pasar memperkirakan pasokan minyak dari Iran dan kawasan Timur Tengah bisa melambat atau bahkan berhenti.
Insiden tersebut, termasuk serangan terhadap dua kapal yang melintas di Selat Hormuz, jalur sempit di mulut Teluk Persia, membatasi kemampuan negara-negara pengekspor minyak untuk mengirim produk mereka ke pasar global.
Analis energi memperingatkan bahwa eskalasi konflik berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah dan bahan bakar.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), patokan utama di AS, diperdagangkan sekitar 72 dolar AS per barel pada Ahad malam, meningkat sekitar 8 persen dari posisi 67 dolar AS pada Jumat, menurut data CME Group.
Sementara itu, minyak mentah Brent, patokan internasional, berada di kisaran 79 dolar AS per barel, naik sekitar 8 persen dari level 72,87 dolar AS pada Jumat, yang menjadi harga tertinggi dalam tujuh bulan terakhir, berdasarkan data FactSet.
Kenaikan harga energi ini berpotensi membuat konsumen membayar lebih mahal untuk bahan bakar dan kebutuhan pokok, di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi di berbagai negara.
Menurut Rystad Energy, sekitar 15 juta barel minyak per hari, atau sekitar 20 persen dari pasokan minyak dunia, melewati Selat Hormuz.
Jalur ini menjadi titik penyempitan (chokepoint) paling vital dalam perdagangan minyak global. Kapal tanker yang melewati selat ini mengangkut minyak dan gas dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Iran.
Sebelumnya, Iran sempat menutup sebagian wilayah Selat Hormuz pada pertengahan Februari untuk latihan militer, yang sempat mendorong harga minyak naik sekitar 6 persen dalam beberapa hari berikutnya.
Di tengah situasi ini, delapan negara anggota OPEC+ mengumumkan peningkatan produksi minyak mentah. Produksi dijadwalkan naik 206 ribu barel per hari pada April, lebih tinggi dari perkiraan analis.
Negara-negara yang menaikkan produksi termasuk Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman.
Jorge León, Wakil Presiden Senior dan Kepala Analisis Geopolitik di Rystad Energy, menekankan,
“Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati Selat Hormuz, arteri vital perdagangan dunia. Karena itu, pasar lebih mengkhawatirkan kelancaran arus pasokan dibandingkan kapasitas cadangan di atas kertas.”
Ia menambahkan, jika arus pasokan melalui Teluk terganggu, tambahan produksi hanya akan memberi dampak terbatas dalam jangka pendek. Akses terhadap jalur ekspor lebih krusial dibanding target produksi semata.
Iran mengekspor sekitar 1,6 juta barel minyak per hari, sebagian besar ke China. Gangguan terhadap ekspor ini diperkirakan akan memaksa China mencari pasokan alternatif, yang bisa mendorong kenaikan harga energi global lebih lanjut.*








