CorongNews – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kian meningkat setelah tiga negara besar Eropa, Perancis, Jerman, dan Inggris, menyatakan kesiapan mengambil langkah defensif terhadap Iran pada Minggu (1/3/26).
Sikap tersebut diambil untuk melindungi kepentingan mereka di kawasan Teluk apabila situasi semakin memburuk. Para pemimpin ketiga negara itu mengaku terkejut atas serangan rudal Iran yang dinilai memperluas eskalasi konflik.
Serangan dari Teheran dilaporkan mengarah ke sejumlah negara di kawasan, termasuk pihak-pihak yang sebelumnya tidak terlibat dalam operasi militer awal oleh Amerika Serikat dan Israel.
“Serangan sembrono Iran telah menargetkan sekutu dekat kami dan mengancam personel militer serta warga sipil kami di seluruh wilayah,” demikian pernyataan bersama ketiga negara tersebut, seperti dikutip AFP, Senin (2/3/26).
“Kami menyerukan kepada Iran untuk segera menghentikan serangan-serangan sembrono ini,” lanjut pernyataan itu.
Mereka juga menegaskan komitmen untuk berkoordinasi dengan AS dan para sekutu di Timur Tengah dalam merespons konflik ini.
Iran dilaporkan meluncurkan serangkaian serangan rudal dan drone ke beberapa negara Teluk, dengan klaim bahwa targetnya adalah pangkalan militer AS.
Langkah tersebut disebut sebagai respons atas serangan rudal gabungan AS-Israel sejak Sabtu (28/2/2026).
Serangan Iran juga menghantam pangkalan militer multinasional di dekat Arbil, Irak utara, serta sebuah kamp tentara Jerman di wilayah timur Yordania. Meski demikian, tidak ada laporan korban jiwa dari serangan tersebut.
Sementara itu, Garda Revolusi Iran mengumumkan dimulainya operasi serangan besar-besaran pada Ahad (1/3/2026), menyusul kabar wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Ledakan dilaporkan terdengar di sejumlah kota, termasuk Riyadh, Dubai, Abu Dhabi, Doha, Manama, Yerusalem, dan Tel Aviv.
Layanan darurat Israel menyebut sedikitnya sembilan orang tewas di Beit Shemesh.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa pembunuhan Khamenei merupakan deklarasi perang terhadap umat Muslim.
“Iran menganggap sebagai kewajiban dan haknya yang sah untuk membalas dendam terhadap para pelaku dan dalang kejahatan bersejarah ini,” ujarnya.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga menegaskan negaranya akan mempertahankan diri tanpa batas.
“Kami tidak melihat batasan bagi diri kami sendiri untuk membela rakyat kami, untuk melindungi rakyat kami,” tegasnya.*








