Jakarta | CorongNews – Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai Indonesia berpotensi terdampak di berbagai sektor akibat perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Pertama, apabila terjadi gangguan di Selat Hormuz, harga minyak dunia berpeluang melonjak. Kondisi ini dapat menambah beban subsidi BBM dan listrik di dalam negeri.
“Situasi tersebut bisa memaksa pemerintah mengalihkan anggaran pembangunan untuk memperkuat perlindungan sosial,” ujar Rahma dalam keterangannya dikutip Tribunnews, Minggu (1/3/2026).
Secara geografis, Iran memang berada di posisi yang sangat strategis, yakni di antara Teluk Persia dan Laut Oman.
Selat Hormuz yang membentang di antara Iran dan Oman merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, dengan sekitar 20 persen distribusi minyak global melewatinya.
Selain sektor energi, tekanan juga berpotensi terjadi pada nilai tukar rupiah. Ia memperkirakan pelemahan rupiah bisa semakin dalam, bahkan menyentuh Rp17.000 per dolar AS.
Depresiasi tersebut berisiko memicu kenaikan harga barang impor, mengingat banyak bahan baku industri manufaktur Indonesia masih bergantung pada pasokan luar negeri.
Tak hanya ekonomi, dampak konflik juga dapat merembet ke aspek keamanan kawasan.
“Ketidakstabilan di Timur Tengah dapat memicu bangkitnya gerakan radikal transnasional. Sentimen anti-Barat yang meningkat bisa dimanfaatkan aktor non-negara untuk mengaktifkan kembali sel-sel tidur di Asia Tenggara,” jelasnya.
Diketahui, Israel melancarkan serangan ke Teheran, Iran, pada Sabtu (28/2/2026) pagi. Pemerintah Israel kemudian menutup wilayah udaranya serta menetapkan status darurat nasional.
Mengutip laporan The Guardian, penutupan wilayah udara dilakukan sebagai langkah antisipasi jika Iran membalas dengan mengerahkan drone atau rudal.
Juru bicara militer Israel menyebut serangan tersebut sebagai langkah awal untuk menghilangkan ancaman terhadap negaranya.
Sementara itu, media Iran melaporkan bahwa Ali Khamenei telah wafat. Kantor berita semi-resmi pemerintah Iran menyatakan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam itu gugur dalam serangan gabungan AS dan Israel.*








