Harga Minyak Global Meroket 20 Persen Akibat Eskalasi Perang Iran-AS-Israel

Pasang Iklan Murah Meriah

CorongNews – Pasar energi dunia terguncang pada pembukaan perdagangan Senin (9/3/2026). Harga minyak mentah melonjak hingga 20 persen, menyentuh angka tertinggi sejak Juli 2022. Kenaikan ekstrem ini dipicu oleh kekhawatiran global atas terganggunya jalur pelayaran vital di Selat Hormuz akibat meluasnya konflik bersenjata antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat.

Rincian Lonjakan Harga Pasar

Ketidakpastian keamanan di jalur energi dunia menyebabkan angka perdagangan bergerak liar:

Sebagai catatan, tren kenaikan ini sudah dimulai sejak pekan lalu dengan akumulasi kenaikan Brent sebesar 27% dan WTI sebesar 35,6%.

(c) Trading Economics

Perluasan Operasi Militer dan Ancaman Pemimpin Dunia

Kenaikan harga ini berbanding lurus dengan memanasnya situasi di lapangan. Militer Israel pada Minggu dini hari mengonfirmasi serangan terhadap komandan Iran di Beirut, Lebanon. Serangan yang kini menyasar pusat kota tersebut telah menelan korban jiwa hampir 400 orang hanya dalam beberapa hari terakhir.

Ketegangan semakin dipicu oleh pernyataan keras dari para pemimpin:

  • Israel: Mengancam akan mengeliminasi siapa pun yang ditunjuk sebagai pengganti Ayatollah Ali Khamenei.

  • Donald Trump: Presiden AS menyatakan bahwa perang hanya akan berhenti jika kekuatan militer dan struktur kepemimpinan Iran telah dilumpuhkan secara total.

Dampak dari retorika dan tindakan militer ini diprediksi akan memaksa konsumen serta pelaku usaha di seluruh dunia menghadapi tingginya harga bahan bakar dalam jangka waktu yang lama, bahkan jika perang berakhir dalam waktu singkat.

Krisis Pasokan dan Gangguan Logistik di Timur Tengah

Terhambatnya arus minyak melalui Selat Hormuz menyebabkan gangguan distribusi yang parah. Meskipun Arab Saudi telah mengalihkan sebagian pengiriman melalui Laut Merah, volume tersebut dilaporkan belum mampu menutupi kekurangan pasokan global.

Beberapa negara produsen minyak mulai mengambil langkah darurat:

  • Kuwait: Sebagai produsen terbesar kelima di OPEC, Kuwait resmi memangkas produksi minyak dan hasil kilang sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman Iran di Selat Hormuz.

  • Irak: Produksi dari tiga ladang minyak utama di wilayah selatan anjlok drastis sebesar 70%. Produksi yang semula 4,3 juta barel per hari kini hanya tersisa sekitar 1,3 juta barel per hari.

  • Uni Emirat Arab (UEA): Melakukan penyesuaian produksi lepas pantai secara hati-hati untuk manajemen penyimpanan, meski operasi di darat diklaim masih berjalan normal.*

Pos terkait