Jakarta | CorongNews – Husain Abdullah, juru bicara Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK), kembali mempertegas peran krusial JK dalam sejarah politik Presiden Joko Widodo.
Penegasan ini bertujuan untuk menyegarkan ingatan para pendukung setia Jokowi mengenai titik awal perjalanan sang Presiden menuju puncak kekuasaan, terutama saat diboyong dari Solo ke panggung Pilgub DKI Jakarta.
Bagian ‘Pembukaan’ dalam Konstitusi Politik
Dalam dialog Head to Head di CNN Indonesia TV pada Rabu (22/4/26) malam, Husain menjelaskan bahwa JK ingin para loyalis Jokowi memahami ada peran besar beliau di balik keberhasilan tersebut.
“Yang ingin disampaikan adalah meyakinkan kepada seluruh loyalis Pak Jokowi, bahwa dirinya itu sebenarnya memiliki bagian peranan di dalam keberhasilan Pak Jokowi untuk menduduki puncak tangga politik di Indonesia sebagai orang nomor satu. Tentu ada proses, dalam setiap kontestasi ada proses,” kata Husain.
Husain menggambarkan posisi strategis Jusuf Kalla dengan menganalogikannya seperti sebuah konstitusi atau undang-undang.
Menurutnya, peran JK berada tepat di bagian pembukaan yang menjadi landasan awal, sementara proses kepemimpinan dan tahapan politik selanjutnya diibaratkan sebagai batang tubuh dan penutup.
Intinya, JK memposisikan dirinya sebagai inisiator utama yang menjadi kunci pembuka bagi seluruh rangkaian perjalanan politik tersebut.
Totalitas Dukungan: Dari Lobi hingga Logistik
Dukungan tersebut bermula saat JK merasa terkesan dengan visi yang dipaparkan Jokowi dalam sebuah seminar di Semarang.
Ketertarikan itu tidak berhenti di sana, melainkan berlanjut pada langkah politik yang nyata dan intensif.
JK secara pribadi melakukan lobi-lobi politik untuk meyakinkan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, agar bersedia mengusung Jokowi.
Tidak hanya membukakan jalan secara politis, JK juga memberikan dukungan total dengan menyiapkan logistik, konsultan politik, hingga memastikan seluruh kebutuhan kampanye untuk memenangkan pertarungan di Jakarta terpenuhi.
Respons Terhadap Tudingan Miring
Pernyataan keras yang dilontarkan JK belakangan ini ternyata dipicu oleh rasa tidak nyaman atas serangan para relawan di media sosial.
JK merasa dipojokkan dengan tuduhan tak berdasar, seperti isu menjadi penyandang dana (bohir) aksi massa senilai Rp5 miliar.
Husain menegaskan bahwa hubungan pribadi antara JK dan Jokowi sebenarnya tidak bermasalah. Persoalannya terletak pada sikap pendukung yang dianggap “amnesia” sejarah.
“Beliau dipojokkan terus dianggap lagi tiba-tiba ada tudingan beliau menjadi bohir membiayai 5 miliar misalnya. Itu beliau tidak nyaman. Makanya dia menyebut kepada pendukungnya, ‘Kurang apa saya ini? Saya ini adalah orang yang pertama membawa Pak Jokowi untuk kontestasi di Pilgub DKI’,” ungkap Husain.*








