Jakarta | CorongNews – Bayang-bayang fenomena “Godzilla El Nino” kini kembali menghantui proyeksi iklim Indonesia tahun 2026. Otoritas meteorologi telah menebar peringatan: musim kemarau kali ini berpotensi jauh lebih menyengat, lebih lama, dan berdampak masif.
Istilah “Godzilla” sendiri bukan sekadar julukan keren, melainkan representasi kekuatan El Nino yang sangat kuat, salah satu yang terdahsyat sejak 1950 yang mampu memicu krisis air hingga melumpuhkan produksi pangan nasional.
Secara teknis, BMKG menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur yang melampaui batas normal.
Akibatnya, sirkulasi atmosfer global bergeser; awan hujan yang seharusnya mampir ke Indonesia justru lari ke kawasan Pasifik.
Sinergi Buruk El Nino dan IOD Positif
Kondisi akan semakin destruktif jika El Nino bersanding dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Fenomena ganda ini mendinginkan suhu laut di sekitar Sumatera dan Jawa, yang secara otomatis “mengunci” pembentukan awan hujan.
BRIN memprediksi puncaknya akan terjadi pada periode April hingga Oktober 2026, di mana wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara Timur bakal mengalami kemarau sangat kering, meski wilayah seperti Sulawesi dan Halmahera mungkin masih mendapat guyuran hujan.
Dalam Rapat Koordinasi Kebakaran Hutan pada Senin (6/4/26), Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan bahwa arah iklim tahun ini memang lebih kering dari biasanya.
“Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering,” ujar Faisal awal pekan lalu.
Meski saat ini status ENSO masih netral, ada peluang sebesar 50 hingga 80 persen bahwa El Nino akan berkembang ke fase moderat pada semester kedua 2026.
Sinyal Bahaya: Titik Panas Mulai Melonjak
Dampak nyata sudah mulai terlihat di lapangan. Hingga awal April 2026, tercatat ada 1.601 titik panas (hotspot) di seluruh Indonesia, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. BMKG memproyeksikan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akan mulai memuncak di Riau pada Juni, sebelum menjalar ke Jambi, Sumatera Selatan, hingga Kalimantan pada bulan-bulan berikutnya.
Fokus utama mitigasi saat ini adalah menjaga lahan gambut agar tidak menjadi “bom waktu”. BMKG gencar melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membasahi lahan (rewetting) melalui hujan buatan. Faisal melaporkan hasil yang cukup positif dari operasi di Riau dan Natuna baru-baru ini.
“Di Posko Riau, dari 23 sorti penerbangan, kita berhasil menambah curah hujan hingga 33 persen dengan volume air lebih dari 100 juta meter kubik. Di Natuna, tiga sorti meningkatkan curah hujan sebesar 36 persen,” jelas Faisal.
Alarm dari Sektor Lingkungan
Meski upaya pencegahan terus dilakukan, data dari Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Hingga 28 Februari 2026, luas lahan yang terbakar sudah mencapai 32.637,42 hektare. Angka ini melonjak hampir 20 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sekitar 1.000 hektare.
“Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan yang lebih kuat dari seluruh pihak,” tegas Hanif.
Ia mengingatkan bahwa kemarau 2026 bukan hanya soal panas, tapi ancaman serius bagi sektor pertanian, perkebunan, hingga kualitas udara yang kita hirup. Potensi “Godzilla El Nino” adalah alarm keras bahwa risiko iklim ekstrem sudah di depan mata.*








