Waspada El Nino 2026: BMKG Prediksi Kemarau Lebih Cepat, Kering, dan Lama

Ilustrai
Pasang Iklan Murah Meriah

Palembang | CorongNews – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan serius mengenai potensi anomali iklim El Nino yang diprediksi akan menyambangi Indonesia pada pertengahan tahun 2026. Berdasarkan laporan terbaru, musim kering tahun ini diperkirakan datang lebih awal dengan durasi yang lebih panjang serta kondisi yang jauh lebih gersang dibandingkan angka normalnya.

Kabar ini muncul seiring dengan berakhirnya fenomena La Nina lemah yang sebelumnya bertahan sejak Oktober 2025 hingga Februari 2026.

Status Siaga El Nino 2026

BMKG meminta seluruh sektor terkait untuk segera menyusun strategi mitigasi berdasarkan prakiraan terbaru ini agar dampak buruk perubahan iklim dapat diminimalisir.

Dalam konferensi pers bertajuk Update Prediksi Musim Kemarau 2026 melalui kanal YouTube BMKG (4/3/2026), Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena, menjelaskan:

Bacaan Lainnya

“Mengenai perkembangan El Nino-Southern Oscillation (ENSO) 2026. El Nino pada saat ini berada dalam fase Netral atau ENSO berada dalam fase netral. Dan, El Nino berpeluang terjadi mulai di pertengahan tahun 2026.”

Ia menambahkan bahwa indeks ENSO per Februari 2026 berada di angka -0,28 (Netral), sementara suhu permukaan laut di Samudra Hindia (Indian Ocean Dipole/IOD) juga terpantau stabil di angka +0,4.

“Prediksi kami menyatakan terdapat peluang sebesar 50-60% terjadi El Nino dengan kategori Lemah-Moderat mulai pertengahan tahun,” pungkas Ardhasena.

Memahami El Nino dan IOD

Secara teknis, El Nino adalah bagian dari siklus ENSO yang ditandai dengan melemahnya angin pasat. Hal ini mengakibatkan suhu permukaan laut di Pasifik Tengah memanas, sehingga pusat pembentukan awan hujan bergeser menjauh dari wilayah Indonesia. Akibatnya, risiko kekeringan di tanah air meningkat tajam.

Di sisi lain, Indian Ocean Dipole (IOD) juga mempengaruhi pola hujan. Jika IOD positif, curah hujan di bagian barat Indonesia akan berkurang. Namun, untuk tahun 2026, IOD diprediksi akan tetap berada pada fase Netral.

Timeline Musim Kemarau di Berbagai Wilayah

Transisi dari Monsun Asia (Angin Baratan) ke Monsun Australia (Angin Timuran) menjadi penanda dimulainya musim kemarau. Berikut rincian persebarannya:

  • April 2026 (16,3% Zona Musim): Meliputi Pesisir Utara Jawa Barat, mayoritas Jawa Tengah dan Jawa Timur, sebagian Bali, NTB, NTT, serta sebagian kecil Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.

  • Mei 2026 (26,3% Zona Musim): Meliputi sebagian Sumatra, Jawa Barat, Bali, Kalimantan Selatan, serta sebagian wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua.

  • Juni 2026 (23,3% Zona Musim): Meliputi sebagian besar Sumatra dan Kalimantan, serta wilayah Sulawesi, Maluku, dan sebagian kecil Papua.

Ardhasena menekankan bahwa sekitar 46,5% wilayah Indonesia akan mengalami kemarau yang datang lebih awal (maju) dari jadwal biasanya, dengan sifat hujan di bawah normal (lebih kering).

Rekomendasi Strategis BMKG

Sebagai langkah “peringatan dini” (early warning), BMKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi untuk berbagai sektor:

  1. Sektor Pangan: Petani disarankan mengatur jadwal tanam dan memilih bibit yang tahan kekeringan atau memiliki siklus tumbuh pendek.

  2. Sektor Air & Energi: Perlunya revitalisasi waduk dan perbaikan pipa distribusi guna menjamin stok air bersih serta kecukupan air untuk operasional PLTA.

  3. Sektor Lingkungan: Pemerintah Daerah harus waspada terhadap penurunan kualitas udara.

  4. Sektor Kehutanan: Memperkuat kesiapsiagaan terhadap ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

“Kami berharap informasi ini dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan untuk melakukan aksi dini atau early action,” tutup Ardhasena.*

Pos terkait