Palembang, CorongNews – Pertemanan seharusnya menjadi ruang aman untuk saling mendukung dan bertumbuh bersama. Namun pada kenyataannya, tidak semua hubungan pertemanan membawa dampak positif.
Ada kalanya seseorang justru terjebak dalam pertemanan toxic yang menguras energi, merusak kepercayaan diri, dan berdampak buruk pada kesehatan mental. Jika dibiarkan, hubungan seperti ini dapat membuat seseorang sulit berkembang dan merasa tidak bahagia.
Agar tidak terus terjebak, penting untuk mengenali ciri teman toxic sekaligus memahami cara move on dari hubungan pertemanan yang tidak sehat. Berikut penjelasannya.
Contoh Sikap Teman Toxic yang Perlu Diwaspadai
Sebelum move on, kenali terlebih dahulu beberapa sikap teman toxic yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari:
- Sering merendahkan atau mengecilkan pencapaian orang lain, baik secara langsung maupun lewat candaan.
- Hanya hadir saat membutuhkan, tetapi menghilang ketika kamu membutuhkan dukungan.
- Suka memanipulasi perasaan, membuatmu merasa bersalah meski kamu tidak melakukan kesalahan.
- Tidak menghargai batasan pribadi, memaksa kehendak, atau mencampuri urusan pribadi secara berlebihan.
- Gemar bergosip dan menyebarkan cerita, bahkan menggunakan rahasiamu sebagai bahan pembicaraan.
- Selalu ingin menjadi pusat perhatian dan merasa terancam saat kamu berkembang atau sukses.
Jika kamu sering mengalami hal-hal di atas, besar kemungkinan pertemanan tersebut bersifat toxic dan perlu dievaluasi.
1. Sadari bahwa Hubungan Pertemanan Tidak Sehat
Langkah awal untuk move on dari teman toxic adalah menyadari bahwa hubungan tersebut tidak sehat. Kamu tidak berlebihan atau terlalu sensitif jika sering merasa lelah, cemas, atau tidak dihargai setelah berinteraksi dengan teman tersebut.
2. Terima Perasaan Kehilangan dan Kecewa
Mengakhiri pertemanan, terutama yang sudah terjalin lama, tentu menimbulkan rasa sedih dan kehilangan. Biarkan dirimu merasakan emosi tersebut tanpa menyalahkan diri sendiri. Proses ini wajar dan merupakan bagian dari penyembuhan.
3. Batasi Komunikasi Secara Bertahap
Jika memutus hubungan secara langsung terasa berat, kamu bisa mulai dengan membatasi komunikasi. Kurangi intensitas bertemu atau berbagi cerita pribadi. Langkah ini membantu kamu menjaga jarak emosional dan melindungi kesehatan mental.
4. Fokus pada Diri Sendiri dan Proses Self-Healing
Gunakan waktu yang ada untuk merawat diri. Lakukan hal-hal yang membuatmu bahagia, seperti menekuni hobi, berolahraga, menulis jurnal, atau beristirahat dengan cukup. Self-healing membantu memulihkan luka emosional akibat pertemanan toxic.
5. Bangun Lingkungan Pertemanan yang Positif
Mulailah membuka diri pada lingkungan yang lebih sehat. Berteman dengan orang-orang yang saling menghargai, mendukung, dan menghormati batasan akan membuatmu merasa lebih aman dan nyaman secara emosional.
6. Belajar Menetapkan Batasan yang Sehat
Pengalaman memiliki teman toxic bisa menjadi pelajaran berharga. Ke depan, belajarlah menetapkan batasan dalam pertemanan. Jangan ragu mengatakan “tidak” dan selalu utamakan kesehatan mental serta kenyamanan diri.
7. Ingat Alasan Mengapa Kamu Memilih Move On
Saat rasa rindu atau rasa bersalah muncul, ingat kembali alasan mengapa kamu memilih menjauh. Move on dari teman toxic bukan tanda egois, melainkan bentuk menghargai diri sendiri dan menjaga kesejahteraan emosional.
Move on dari teman toxic memang membutuhkan waktu dan proses. Namun, dengan langkah yang tepat dan kesadaran diri, kamu bisa membangun kehidupan sosial yang lebih sehat, tenang, dan penuh energi positif.*
V)








