CorongNews – Kekaisaran Ottoman atau Kesultanan Utsmaniyah merupakan salah satu imperium terbesar dalam sejarah dunia. Berdiri sejak akhir abad ke-13, kekuasaan ini mencapai puncak kejayaan militer dan politiknya antara abad ke-15 hingga abad ke-17. Wilayahnya membentang luas dan mencakup kota-kota penting serta tanah suci seperti Konstantinopel (Istanbul), Yerusalem, Mekah, dan Madinah.
Berdasarkan sumber dari kanal YouTube This Is History, kekaisaran ini didirikan pada tahun 1299 oleh Bani Utsman.
Selama lebih dari enam abad, pemerintahan Ottoman dipimpin oleh 36 sultan dan berkembang menjadi negara multietnis serta multiagama.
Beragam suku dan komunitas agama hidup di bawah administrasi yang sama. Struktur dan warisan politiknya kemudian menjadi fondasi berdirinya negara Turki modern.
Salah satu momen terpenting dalam sejarahnya terjadi pada 1453, ketika Mehmed II menaklukkan Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Bizantium.
Setelah kemenangan tersebut, kota itu diubah namanya menjadi Istanbul dan dijadikan pusat pemerintahan baru. Penaklukan ini menandai perubahan besar dalam peta politik dunia dan memperkuat posisi Ottoman sebagai kekuatan Islam utama.
Awal Berdirinya
Cikal bakal Ottoman bermula pada paruh kedua abad ke-13, ketika suku-suku Turki dari Turkestan bermigrasi ke Asia Kecil. Sebelumnya mereka bermukim di wilayah sekitar Sungai Amu Darya, Tabaristan, dan Gorgan.
Interaksi bangsa Turki dengan dunia Islam telah terjadi sejak masa Khalifah Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan, lalu semakin kuat pada era Abbasiyah, terutama pada masa Khalifah Al-Mu’tasim.
Bangsa Turki kemudian mendirikan Kesultanan Seljuk. Namun setelah kekuasaan Seljuk melemah akibat serangan Mongol, sekelompok pengikut Sulaiman bermigrasi ke barat.
Kepemimpinan diteruskan oleh putranya, Ertugrul, yang memperoleh wilayah di Anatolia Barat. Ertugrul memperluas pengaruhnya dengan menekan wilayah Bizantium.
Setelah Ertugrul wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Osman I (Utsman). Pada masa inilah Kekaisaran Ottoman secara resmi berdiri.
Dari kerajaan kecil di Anatolia, Ottoman berkembang menjadi imperium yang bertahan lebih dari enam abad (1281–1924), menguasai wilayah Arab hingga kawasan antara Kaukasus dan Wina, serta Balkan seperti Makedonia, Bosnia, Bulgaria, dan Albania.
Ottoman juga menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, termasuk Aceh dan Banten, yang mengirim utusan ke Istanbul untuk mendapatkan pengakuan gelar sultan.
Perpindahan Ibu Kota
Pusat pemerintahan Ottoman mengalami beberapa kali perpindahan. Pada awalnya, Sogud menjadi pusat kekuasaan.
Setelah penaklukan Broessa (Bursa) tahun 1317, kota itu menjadi ibu kota hingga masa Murad I. Kemudian Adrianopel (Edirne) dijadikan pusat pemerintahan sampai penaklukan Konstantinopel oleh Mehmed II pada 1453, yang menjadikan Istanbul sebagai ibu kota terakhir kekaisaran.
Dalam tata kelola pemerintahan, Ottoman menerapkan sistem “Millet”, yakni pemberian otonomi kepada komunitas agama dan etnis minoritas untuk mengatur urusan internal mereka.
Sistem ini memungkinkan stabilitas sosial dalam wilayah yang sangat beragam.
Masa Kejayaan
Puncak kejayaan terjadi pada abad ke-16, khususnya pada masa Selim I dan Suleiman I. Selim I memperluas wilayah hingga Baghdad dan Kairo serta mengukuhkan posisi Ottoman sebagai kekhalifahan penting di dunia Islam.
Sementara itu, Suleiman I yang dijuluki Al-Qanuni (pembuat undang-undang) tidak hanya sukses dalam ekspansi militer, tetapi juga membangun sistem hukum dan administrasi yang rapi.
Di bawah pemerintahannya, wilayah Ottoman meluas hingga Lembah Nil, Lembah Furat, bahkan mencapai Gibraltar. Perdagangan berkembang pesat, kebudayaan dan ilmu pengetahuan maju, serta rakyat relatif sejahtera.
Pada periode ini, Ottoman menjadi kekuatan dominan di Laut Mediterania dan menjalin aliansi dengan negara Eropa seperti Perancis dan Inggris untuk menandingi kekuasaan Habsburg.
Silsilah Dinasti
Dinasti Ottoman dimulai oleh Osman I. Para sultan awal umumnya memiliki garis keturunan Turki yang kuat. Namun sejak generasi berikutnya, terutama mulai Murad I, banyak ibu sultan berasal dari luar Asia Tengah, seperti Yunani, Polandia, Venesia, Rusia, dan Prancis.
Seiring waktu, garis keturunan Turki-Oghuz dalam keluarga sultan semakin bercampur. Pada masa sultan terakhir, Mehmed VI (1918–1922), unsur darah Turki asli sudah sangat berkurang akibat percampuran lintas bangsa selama berabad-abad.
Keruntuhan
Kemunduran mulai terasa setelah wafatnya Suleiman I pada 1566. Kesultanan kesulitan menemukan pemimpin kuat pengganti. Di saat bersamaan, Eropa menemukan jalur perdagangan baru ke Asia, melemahkan dominasi ekonomi Ottoman.
Sistem militer dan birokrasi yang dulu solid menjadi kurang efektif di bawah sultan-sultan lemah. Kemajuan teknologi militer Eropa juga memberi keunggulan baru bagi lawan-lawan mereka. Selain itu, pemberontakan internal seperti Jelali dan Yenisari memperparah ketidakstabilan.
Inflasi akibat masuknya perak dari benua Amerika melalui Spanyol turut mengguncang ekonomi. Negara-negara Eropa juga memanfaatkan sentimen nasionalisme di wilayah Ottoman untuk melemahkan kekuasaan pusat.
Pada awal abad ke-20, muncul tokoh reformis Mustafa Kemal Atatürk. Ia melakukan transformasi besar dengan mengadopsi sistem sekuler ala Barat. Pada 3 Maret 1924, sistem kekhalifahan resmi dihapus dan digantikan dengan republik modern.
Dengan demikian berakhirlah perjalanan panjang Kekaisaran Ottoman, sebuah imperium yang pernah menjadi kekuatan militer, politik, dan peradaban terbesar di dunia selama lebih dari enam abad.*








