CorongNews – Jejak masuknya Islam di Jawa dan Nusantara bisa ditelusuri lewat peninggalan makam-makam kuno yang tersebar di berbagai wilayah. Temuan arkeologis menunjukkan bahwa perkembangan Islam di Indonesia sudah berlangsung sejak awal abad Masehi, seiring dengan aktifnya jalur perdagangan internasional di Asia Tenggara.
Sejumlah ahli menyebut, kontak antara masyarakat Nusantara dengan Muslim dari India, Arab, dan Persia sudah terjadi sejak abad ke-7 hingga ke-8 Masehi. Bukti paling nyata dari interaksi tersebut dapat ditemukan pada makam-makam Islam awal di Jawa, khususnya di wilayah pesisir utara.
Makam Islam Tertua di Gresik
Salah satu bukti penting sejarah Islam di Jawa berada di Leran, Gresik, Jawa Timur. Di kawasan ini ditemukan kompleks makam Islam yang diyakini berasal dari abad ke-11 Masehi. Dalam buku Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia, sejarawan Hasan Muarif Ambary menjelaskan bahwa nisan-nisan di Leran menjadi penanda kuat kehadiran Islam di Jawa.
Salah satu makam yang paling dikenal adalah makam Fatimah binti Maemun bin Hibatallah. Pada nisannya tertulis angka tahun 475 Hijriah atau sekitar 1082 Masehi. Tulisan tersebut menggunakan huruf Arab bergaya kufi, jenis aksara yang umum digunakan dalam dunia Islam pada masa awal.
Kemiripan Makam Islam di Asia Tenggara
Menariknya, gaya nisan makam di Gresik memiliki kemiripan dengan makam Islam yang ditemukan di Padurangga atau Phanrang, Vietnam. Di wilayah tersebut juga ditemukan nisan dengan aksara Arab kufi serta inskripsi yang memuat identitas tokoh, waktu wafat, hingga catatan yang berkaitan dengan aktivitas perdagangan.
Kesamaan ini memperkuat dugaan bahwa penyebaran Islam di Asia Tenggara berlangsung melalui jaringan pedagang dan ulama lintas wilayah, bukan melalui satu jalur tunggal.

Unsur Sufistik dalam Nisan Makam
Pada makam Fatimah di Gresik, terdapat kutipan Surah ar-Rahman ayat 55 yang diduga mengandung unsur sufistik. Kutipan serupa juga ditemukan pada nisan Sultan Malik al-Saleh di Aceh yang berasal dari tahun 1326 Masehi.
Kesamaan ini dinilai memiliki kaitan erat dengan aliran Islam awal yang berkembang di Nusantara, yang banyak menekankan pendekatan spiritual dan tasawuf dalam dakwahnya.
Pengaruh Gujarat dan Persia dalam Penyebaran Islam
Sekitar empat abad setelah makam Fatimah, Gresik kembali menyimpan bukti sejarah Islam berupa nisan marmer bertuliskan aksara kufi. Marmer tersebut diduga berasal dari Gujarat, India, dan bertarikh 822 Hijriah atau sekitar 1419 Masehi.
Berdasarkan temuan ini, sejumlah sejarawan menduga Maulana Malik Ibrahim—salah satu tokoh penting penyebaran Islam di Jawa—bukan berasal dari Nusantara. Ia diyakini datang dari Gujarat atau kawasan Arab sebagai ulama pendatang.
Meski begitu, gaya seni dan aksara pada nisan-nisan tersebut menunjukkan pengaruh kuat Persia. Fakta ini membuka kemungkinan bahwa masuknya Islam ke Jawa melibatkan jaringan internasional yang luas dan beragam.
Kompleks Makam Islam di Kawasan Majapahit
Jejak Islam di Jawa juga ditemukan di kawasan Troloyo, dekat Trowulan, bekas ibu kota Kerajaan Majapahit. Di Desa Sentonorejo terdapat kompleks makam Islam yang luas, tersusun rapi, dan dipisahkan oleh pagar-pagar antar kelompok makam.
Di bagian barat laut area ini terdapat makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan raja-raja Majapahit yang telah memeluk Islam. Makam-makam tersebut ditandai dengan simbol surya khas Majapahit serta angka tahun dari abad ke-15 Masehi.
Selain itu, masyarakat setempat juga meyakini adanya makam para sunan atau Wali Songo di kawasan tersebut, tokoh-tokoh yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa.*
V)








