CorongNews – Pemerintah Israel menegaskan tidak akan membayar iuran kepada Board of Peace yang dibentuk untuk mendukung rekonstruksi Gaza. Sikap tersebut mendapat persetujuan dari Amerika Serikat (AS), yang mengizinkan Israel untuk tidak berkontribusi dana.
Mengutip laporan JNS, Radio Militer Israel pada Minggu (22/2/26) melaporkan bahwa pemerintah Israel telah memberi tahu Presiden AS, Donald Trump, mengenai keputusan mereka untuk tidak menyumbang ke dewan perdamaian khusus Gaza yang dipimpin Trump.
Israel secara resmi menyampaikan penolakan membayar iuran atau sumbangan kepada Board of Peace tersebut.
Menteri Urusan Politik dan Keamanan Israel, Ze’ev Elkin, menyatakan tidak ada alasan bagi negaranya untuk membayar dana, terlebih setelah Israel mengalami serangan, maupun untuk mendukung pembiayaan pembangunan kembali Gaza.
“Kami tidak akan mendanai Board of Peace; tidak ada alasan untuk itu. Kita diserang. Tidak ada alasan bagi kita untuk membayar biaya rekonstruksi,” ujar Elkin, anggota Kabinet Keamanan Yerusalem, kepada saluran pemerintah Kan Reshet Bet, seperti dikutip JNS.
Elkin menilai keputusan tersebut masuk akal dari perspektif keamanan dan dinamika politik domestik.
Langkah ini juga disebut meredakan keberatan sejumlah menteri sayap kanan di kabinet, yakni Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich, yang sebelumnya menolak keterlibatan Israel dalam forum yang turut melibatkan negara seperti Turki dan Qatar.
Tujuan Iuran Board of Peace yang Diminta Trump
Presiden AS, Donald Trump, mengadakan pertemuan perdana Board of Peace yang baru dibentuk di markas United States Institute of Peace pada Kamis (19/2/26).
Dalam forum tersebut, Trump memaparkan rencana besar rekonstruksi Gaza dan mengumumkan sejumlah komitmen pendanaan dari berbagai negara.
Aturan pembentukan dewan itu menetapkan status keanggotaan tetap bagi negara yang menyumbang minimal 1 miliar dolar AS pada tahun pertama.
Dalam pidatonya, Trump menyampaikan bahwa AS akan memberikan kontribusi sebesar 10 miliar dolar AS untuk Board of Peace. Ia menyebut angka itu relatif kecil dibandingkan total biaya perang.
Rencana tersebut juga mencakup pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) untuk Gaza.
Jenderal Jasper Jeffers yang ditunjuk sebagai komandan ISF menyatakan bahwa Indonesia, Maroko, Kazakhstan, Kosovo, dan Albania telah berkomitmen mengirimkan pasukan. Sementara itu, Mesir dan Yordania akan membantu pelatihan kepolisian.
Pasukan tersebut direncanakan bertugas di lima sektor wilayah Gaza, dimulai dari Rafah, dengan target jangka panjang mencapai 12.000 polisi dan 20.000 personel ISF. Indonesia juga disebut akan menjabat sebagai wakil komandan pasukan.
Untuk bantuan kemanusiaan, Trump menyebut sembilan negara, Kazakhstan, Azerbaijan, Uni Emirat Arab, Maroko, Bahrain, Qatar, Arab Saudi, Uzbekistan, dan Kuwait telah berjanji menyumbang total 7 miliar dolar AS.
“Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Kazakhstan, Azerbaijan, UEA, Maroko, Bahrain, Qatar, Arab Saudi, Uzbekistan, dan Kuwait semuanya telah menyumbang lebih dari 7 miliar dolar AS untuk paket bantuan tersebut,” kata Trump, dikutip dari laman Time.
Selain itu, Kantor PBB untuk Koordinasi Bantuan Kemanusiaan akan menghimpun tambahan dana sebesar 2 miliar dolar AS, sementara Jepang akan menjadi tuan rumah acara penggalangan dana yang melibatkan sejumlah negara Asia dan Rusia.
FIFA juga disebut akan membantu mengumpulkan dana sebesar 75 juta dolar AS untuk proyek-proyek di Gaza. Trump menegaskan bahwa Board of Peace akan berfungsi untuk mengawasi dan memperkuat peran PBB, bukan menggantikannya.*








