CorongNews – Gempuran militer Israel kembali mengguncang Jalur Gaza tepat pada hari pertama perayaan Idul Adha. Serangan udara yang dilancarkan semalam di kawasan Al-Rimal, Kota Gaza bagian barat, dilaporkan merenggut nyawa tujuh warga Palestina.
Ironisnya, agresi ini terjadi hanya beberapa jam sebelum masyarakat bersiap melaksanakan shalat Idul Adha, di tengah dentuman bom yang terus menggema di berbagai sudut Jalur Gaza.
Korban Jiwa dan Kerusakan Infrastruktur
Menurut laporan dari Bulan Sabit Merah Palestina, bombardir jet tempur Israel yang menyasar sebuah kediaman di pusat Kota Gaza menewaskan minimal empat orang dan melukai 15 warga lainnya.
Kantor berita WAFA, mengutip sumber medis dari Rumah Sakit Al-Shifa, mengonfirmasi bahwa total korban tewas mencapai tujuh orang disertai belasan korban luka-luka.
Saksi mata menyebutkan sebuah pesawat tempur Israel melesatkan dua rudal ke arah rumah yang berlokasi di sekitar Menara al-Israa, Jalan Omar Al-Mukhtar, dekat taman kota setempat.
Sebelum insiden tersebut, serangan juga telah menyasar wilayah barat Kota Gaza dan sisi timur Khan Yunis. Sebuah apartemen di Gaza Barat hantam oleh pesawat tempur, sementara artileri berat menggempur Khan Yunis Timur, yang mengakibatkan lebih dari sepuluh warga Palestina menderita luka-luka.
Kendala Evakuasi dan Krisis Kemanusiaan
Pihak Kementerian Kesehatan di Gaza melansir bahwa dalam kurun waktu 24 jam terakhir, fasilitas kesehatan telah menerima enam jenazah dan 34 korban luka.
Kementerian juga menegaskan banyak korban yang hingga kini masih terjebak di balik reruntuhan bangunan maupun di jalanan.
Proses evakuasi sulit dilakukan lantaran tim penyelamat teradang oleh intensitas serangan yang terus berlangsung serta situasi lapangan yang kian memburuk.
Dokumentasi visual dari Rumah Sakit Al-Shifa memperlihatkan kedatangan jenazah dan warga sipil yang terluka pasca-serangan, termasuk di antaranya anak-anak.
Pudarnya Suka Cita Hari Raya di Gaza
Bagi mayoritas penduduk Palestina di Gaza, momentum hari raya kini tidak lagi identik dengan perayaan, melainkan telah berubah menjadi simbol duka dan kehilangan yang mendalam.
Selama tiga tahun berturut-turut, masyarakat Gaza terpaksa kehilangan kesempatan untuk menunaikan ibadah haji. Tradisi penyembelihan hewan kurban yang menjadi esensi Idul Adha pun hampir sepenuhnya tidak bisa dilaksanakan akibat blokade total yang berkepanjangan, kehancuran massal, serta kelangkaan pasokan yang mencekik.
Pada tahun ini, pelaksanaan shalat Id kembali digelar di antara puing-puing masjid yang telah hancur dan di lapangan terbuka di tengah lanskap kota yang luluh lantak.
Agresi dan tindakan genosida yang dilakukan Israel di Gaza sejak Oktober 2023 tercatat telah merenggut lebih dari 72.000 nyawa warga Palestina dan melukai lebih dari 172.000 orang, sementara hampir 90 persen infrastruktur sipil di wilayah tersebut kini telah rusak parah atau hancur total. (*)








