Jakarta | CorongNews – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang tertahan di Selat Hormuz terus diupayakan agar dapat keluar dari wilayah yang tengah dilanda konflik tersebut.
Menurut Bahlil, pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) sedang menempuh langkah diplomasi guna memastikan kapal pengangkut minyak mentah (crude) itu bisa meninggalkan kawasan dengan aman.
“Kami lagi upaya diplomasi agar ada cara yang lebih baik untuk mereka bisa dikeluarkan,” ujarnya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Ia menambahkan, apabila dalam kondisi terburuk kedua kapal tersebut tidak dapat keluar, pemerintah telah menyiapkan langkah alternatif, yakni mengalihkan pembelian minyak mentah dari wilayah lain yang jalur pengirimannya tidak melewati Selat Hormuz.
Langkah ini dilakukan demi menjaga stabilitas dan keamanan pasokan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global.
“Andaikan pun itu tidak dikeluarkan, kita sudah cari alternatif untuk mencari sumber crude dari yang lain dan sudah dapat. Jadi saya pikir itu tidak menjadi sesuatu problem, bukan sesuatu masalah yang sangat penting,” ucap Bahlil.
Pemerintah sendiri berencana mengalihkan seluruh impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke Amerika Serikat sebagai bentuk mitigasi atas meningkatnya ketegangan antara Israel, AS, dan Iran.
Selama ini, sekitar 25 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah, sementara sisanya dipasok dari sejumlah negara lain seperti Angola, Amerika Serikat, dan Brasil.
“25 persen dari total crude yang kita pesan dari Middle East itu akan dialihkan (ke AS),” ujar Bahlil.
Pengalihan ini juga merupakan bagian dari kesepakatan dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat, di mana Indonesia berkomitmen membeli produk energi senilai 15 miliar dollar AS atau sekitar Rp 253 triliun.
Dalam kesempatan tersebut, Bahlil menegaskan pemerintah terus melakukan analisis dan komunikasi intensif dengan berbagai negara terkait perkembangan situasi global. Berdasarkan kajian internal dan informasi intelijen, durasi ketegangan di Timur Tengah masih sulit diprediksi.
“Sekalipun informasi disampaikan bahwa ketegangan ini akan selesai dalam waktu ada yang mengatakan 5 hari, ada 4 minggu. Tapi keyakinan kami, setelah melakukan kajian, ini tidak akan bisa kita ramalkan kapan selesai. Bisa cepat, bisa lambat,” jelasnya.
PIS Terus Melakukan Pemantauan
Sebelumnya, PT Pertamina International Shipping (PIS) memastikan terus melakukan pemantauan intensif terhadap seluruh armadanya serta menjamin keselamatan para awak kapal yang berada di kawasan Timur Tengah.
Saat ini terdapat empat kapal PIS yang beroperasi di wilayah tersebut, yakni Kapal Gamsunoro yang tengah melakukan proses loading di Khor al Zubair, Irak;
Kapal Pertamina Pride yang telah menyelesaikan proses loading dan kini berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi;
Kapal PIS Rinjani yang berada di Khor Fakkan, Uni Emirat Arab;
Kapal PIS Paragon yang sedang melakukan proses discharge di Oman.
Pelaksana Tugas (Pjs) Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menyampaikan bahwa perusahaan terus memonitor perkembangan situasi selama 24 jam penuh, sembari mengupayakan agar kapal-kapal tersebut dapat segera keluar dari kawasan Teluk.
“Saat ini, tim armada kami tengah menjalin komunikasi intens dengan pihak pengelola untuk koordinasi dan memastikan keselamatan para kru dan kapal,” ujar Vega dalam keterangan tertulis, Senin (2/3/26).*








