Sikka | CorongNews – Kabar duka menyelimuti Dusun Riidetut, Desa Kajowair, Kabupaten Sikka, NTT. Seorang remaja berinisial HKN (13) ditemukan tak bernyawa dalam posisi tergantung di sebuah pohon pala pada Rabu (29/4/26) dini hari, sekitar pukul 00.25 WITA.
Kronologi Kejadian
Dilansir CNN, Selasa sore (28/04/26) pukul 18.00 WITA, nenek korban, HH (71), mulai menyadari bahwa cucunya tidak ada di rumah. Upaya pencarian awal dilakukan dengan mendatangi rumah kerabat, tetangga, hingga area kebun, namun hasilnya nihil hingga malam tiba.
Selasa malam pukul 23.30 WITA, karena merasa tidak tenang, sang nenek kembali melakukan pencarian seorang diri.
Hanya berjarak 30 meter dari sisi utara rumah, HH menemukan tubuh HKN sudah tergantung pada dahan pohon pala dengan seutas tali nilon berukuran 6 mm.
Teriakan histeris sang nenek memicu kedatangan warga. Saksi berinisial PP (35) yang tiba di lokasi melihat korban sudah dalam kondisi meninggal dunia. Pihak kepolisian dari Polsek Kewapante dan Tim Inafis Polres Sikka segera bergerak melakukan olah TKP setelah menerima laporan.
Latar Belakang dan Keputusan Keluarga
Berdasarkan penuturan saksi, korban disebut-sebut sering mengalami masalah kesehatan mental atau kondisi yang oleh warga setempat digambarkan sebagai “kerasukan”, serta kerap terlihat berkeliling kampung sendirian.
Terkait prosedur hukum, pihak keluarga secara resmi telah menandatangani surat pernyataan untuk menolak proses autopsi maupun visum et repertum.
Catatan Mengkhawatirkan di Kabupaten Sikka
Berdasarkan data yang dihimpun oleh pihak kepolisian, tren kasus bunuh diri di wilayah hukum Polres Sikka menunjukkan angka yang cukup memprihatinkan.
Sepanjang periode tahun 2020 hingga 2026, tercatat telah terjadi sebanyak 15 kasus bunuh diri secara keseluruhan. Ironisnya, empat kasus di antaranya terjadi dalam waktu yang sangat singkat, yakni hanya dalam kurun waktu empat bulan pertama di tahun 2026 ini.
Respons dan Imbauan Kepolisian
Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno, menekankan pentingnya menjaga resiliensi mental di tengah masyarakat. Beliau menegaskan bahwa mengakhiri hidup secara tragis bukanlah jalan keluar atas himpitan beban hidup.
“Kesehatan mental memegang peranan yang sama krusialnya dengan kesehatan fisik. Kami berharap adanya peningkatan dukungan sosial dan kepekaan antarsesama warga guna memutus rantai kasus serupa ke depannya,” tegasnya dalam imbauan resmi.*
Catatan Redaksi: Berita ini tidak ditujukan untuk menginspirasi tindakan serupa. Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan mental atau memiliki kecenderungan menyakiti diri sendiri, segera hubungi layanan kesehatan jiwa atau profesional medis terdekat.








