CorongNews – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terang-terangan menyatakan niatnya untuk mengintervensi pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru pasca wafatnya Ayatollah Ali Khamenei.
Trump menegaskan penolakannya terhadap sosok Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang Ali Khamenei yang disebut-sebut sebagai kandidat kuat penerus takhta kepemimpinan di Teheran.
Meskipun Mojtaba (56 tahun) diprediksi banyak pihak akan mewarisi posisi ayahnya, Trump menganggap figur tersebut tidak layak dan hanya akan memperpanjang konflik.
Pernyataan Keras Donald Trump
Dalam keterangannya pada hari Kamis, Trump membandingkan situasi ini dengan campur tangan politik yang pernah dilakukan AS di Amerika Latin. Berikut adalah poin-poin keberatan yang disampaikannya:
Menolak Politik Dinasti: Trump menganggap pemilihan Mojtaba hanya membuang waktu karena dinilai tidak memiliki pengaruh yang signifikan.
Menuntut Keterlibatan: Ia merasa AS harus memiliki suara dalam penunjukan tersebut.
“Putra Khamenei adalah orang yang tidak berpengaruh. Saya harus terlibat dalam penunjukan tersebut, seperti dengan Delcy (Rodriguez) di Venezuela,” ujar Trump via Axios.
Ancaman Konflik Baru: Trump memperingatkan bahwa jika pemimpin baru Iran tetap melanjutkan garis kebijakan lama, maka konfrontasi fisik tidak terhindarkan.
“Putra Khamenei tidak dapat diterima oleh saya. Kami menginginkan seseorang yang akan membawa harmoni dan perdamaian ke Iran. Jika tidak, AS bakal kembali berperang dengan Iran dalam lima tahun ke depan.”
Konteks Ketegangan Iran-AS (Februari – Maret 2026)
Situasi di Timur Tengah saat ini tengah membara setelah Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam operasi udara gabungan antara Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026). Kematian pemimpin besar Iran tersebut memicu gelombang serangan balasan yang masif.
Perbandingan Data Korban Serangan Balasan Iran:
| Sumber Informasi | Klaim Jumlah Tentara AS yang Tewas |
| Ali Larijani (Dewan Keamanan Iran) | Lebih dari 500 orang |
| Pemerintah Amerika Serikat | 6 orang |
Hingga saat ini, Iran dikabarkan terus membidik fasilitas militer serta diplomatik milik Amerika Serikat di berbagai negara Timur Tengah, termasuk meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel sebagai respons atas kematian pemimpin mereka.*








