CorongNews – Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, membeberkan fakta mengejutkan mengenai operasi eliminasi Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Dalam pernyataannya pada Kamis (5/3/26), Katz mengungkapkan bahwa keputusan untuk membunuh Khamenei sebenarnya telah disepakati sejak November 2025 melalui pertemuan rahasia bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Perubahan Jadwal Operasi
Awalnya, eksekusi terhadap pemimpin tertinggi Iran tersebut direncanakan bakal berlangsung dalam kurun waktu enam bulan ke depan (sekitar pertengahan 2026). Namun, dinamika di lapangan memaksa jadwal tersebut dimajukan.
“Pada bulan November lalu, kami telah mengadakan pertemuan dengan perdana menteri dalam forum yang sangat tertutup dan perdana menteri (Benjamin Netanyahu) menetapkan tujuan untuk mengeliminasi Khamenei,” ungkap Katz dalam wawancaranya dengan stasiun televisi N12 Israel.
Beberapa poin penting terkait percepatan operasi ini antara lain:
Koordinasi dengan AS: Rencana ini telah dibagikan kepada pemerintah di Washington.
Pemicu Internal: Gelombang protes yang pecah di Iran pada Januari menjadi alasan kuat mengapa operasi dimajukan dari jadwal semula.
Eksekusi: Khamenei akhirnya tewas dalam serangan udara gabungan AS-Israel yang dilancarkan pada Sabtu (28/2/2026). Peristiwa ini mencatat sejarah sebagai pembunuhan pertama pemimpin tertinggi sebuah negara lewat operasi udara.
Dampak dan Eskalasi Regional
Memasuki akhir pekan pertama kampanye militer ini, situasi di Timur Tengah kian memanas. Serangan pembuka tersebut tidak hanya menewaskan tokoh-tokoh kunci, tetapi juga memicu reaksi keras:
Balasan Iran: Teheran meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel dan berbagai target di kawasan Teluk.
Front Lebanon: Israel secara bersamaan menggempur kekuatan Hizbullah di Lebanon yang merupakan sekutu utama Iran.
Tujuan Strategis Israel
Pihak Israel berdalih bahwa langkah ekstrem ini diambil demi menghapus ancaman eksistensial, khususnya terkait ambisi nuklir dan proyek rudal balistik Iran. Selain itu, mereka secara terang-terangan menargetkan adanya perubahan rezim di Teheran.
Meski demikian, hingga saat ini otoritas di Iran terpantau masih berupaya mempertahankan kendali kekuasaan mereka.*








