Jakarta | CorongNews – Pemerintah tengah menggodok rencana besar untuk mengembangkan gas alam terkompresi atau Compressed Natural Gas (CNG) sebagai energi alternatif pengganti LPG bagi masyarakat luas.
Inovasi ini difokuskan pada pengemasan CNG ke dalam tabung 3 kg agar lebih praktis untuk penggunaan rumah tangga.
Dikutip Detik, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa sebenarnya pemanfaatan CNG sudah berjalan di sektor komersial seperti perhotelan dan restoran, namun masih dalam kemasan tabung besar.
“Kita merumuskan untuk mencari alternatif lain. CNG adalah salah satu alternatifnya. Nah CNG ini kan sudah dipakai oleh hotel, restoran, MBG, sudah ada, tapi pada klasifikasi yang 20 kilogram ke atas, ada yang 10-10 kilogram ke atas,” ungkap Bahlil setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Selasa (5/5/26).
Tantangan Teknis dan Uji Coba Tabung 3 Kg
Proses menghadirkan CNG dalam ukuran kecil bukannya tanpa kendala. Bahlil menyebutkan faktor tekanan gas yang sangat tinggi menjadi fokus utama dalam tahap uji coba saat ini. Pemerintah menargetkan modifikasi teknologi tabung ini akan selesai dalam waktu dekat.
“Nah, untuk yang 3 kilo memang tabungnya masih dilakukan uji coba karena tekanannya kan besar sekali, dia sekitar 200 sampai 250 bar. Nah ini yang kita akan mencoba untuk modifikasi. Insyaallah 2-3 bulan ini kita akan dapat hasilnya,” jelas Bahlil.
Strategi Konversi dan Kedaulatan Gas Nasional
Jika tahap pengujian berhasil, pemerintah akan memulai proses migrasi dari LPG ke CNG secara bertahap. Bahlil optimistis karena Indonesia memiliki cadangan bahan baku gas yang sangat melimpah, sehingga ketergantungan pada impor bisa ditekan.
“Kemudian kalau itu sudah dinyatakan firm, kita akan melakukan konversi. Sebab apa? CNG ini bahan bakunya ada semua di kita. C1, C2 gas,” tuturnya.
Keyakinan ini semakin diperkuat dengan ditemukannya cadangan gas raksasa di Kalimantan Timur yang diproyeksikan untuk mengamankan pasokan domestik.
“Apalagi kita kan baru menemukan gas sekitar 3.000 MM di Kalimantan Timur. Nah ini sebagian besar kita bisa alokasikan untuk kebutuhan dalam negeri untuk meng-cover CNG ya,” tambah Bahlil.
Menakar Skema Subsidi dan Efisiensi Harga
Terkait pertanyaan apakah CNG 3 kg nantinya akan mendapatkan subsidi seperti halnya “tabung melon” LPG, Bahlil menyatakan hal itu masih dalam tahap pengkajian. Namun, ia memberi sinyal kuat bahwa dukungan pemerintah melalui subsidi kemungkinan besar tetap ada.
“Semuanya lagi dikaji. Opsinya subsidi masih haruslah. Tinggal volumenya seperti apa yang kita perlu baca ya,” kata Bahlil.
Menariknya, CNG diprediksi akan memiliki harga jual yang jauh lebih ekonomis dibandingkan LPG, bahkan bisa lebih hemat hingga 30%. Hal ini dimungkinkan karena seluruh rantai produksi berada di dalam negeri.
“Kenapa dia lebih murah? Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya kan ada di kita, di dalam negeri. Jadi tidak kita melakukan impor. Cost transportasinya aja udah bisa meng-cover,” pungkasnya.*








