Jakarta | CorongNews – Demi menjaga kesehatan fiskal dan memastikan defisit APBN tetap berada di bawah ambang batas 3%, Pemerintah Indonesia berencana melakukan penyesuaian intensitas program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah ini diambil sebagai strategi mitigasi terhadap tekanan anggaran negara.
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, mengungkapkan bahwa melambungnya harga minyak mentah global yang melewati angka US$100 per barel menjadi pemicu utama.
Pemerintah memilih melakukan penghematan pada pos program ini agar harga BBM bersubsidi tetap stabil bagi masyarakat.
Perubahan Frekuensi Pemberian Makan
Perjalanan program MBG mencatat beberapa kali penyesuaian frekuensi yang cukup dinamis.
Pada saat pertama kali diimplementasikan, program ini dijalankan selama 6 hari dalam sepekan sebagai langkah awal. Namun, memasuki akhir Maret 2026, jatah pemberian makan mulai dipangkas menjadi 5 hari dalam sepekan.
Tren pengurangan ini diprediksi akan terus berlanjut pada rencana terbaru pemerintah, yang menargetkan pemangkasan tambahan hingga jatah makan hanya diberikan 4 hari dalam sepekan.
Dalam acara Policy Dialogue – Kick Off program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) 2026, Juda memberikan ilustrasi mengenai rasionalisasi ini:
“MBG misalnya, yang dulunya Sabtu diberikan makan siang gratis, sekarang dihilangkan. Make sense kan? Lebih logic kan?”
Dampak Penghematan dan Evaluasi Ketat
Melalui kebijakan ini, pemerintah memproyeksikan adanya penekanan pengeluaran negara yang cukup signifikan, di mana penghematan jangka pendek diperkirakan mampu mencapai Rp4 triliun.
Jika dihitung dalam jangka waktu satu tahun, total dana yang dapat diselamatkan dari langkah efisiensi ini diestimasi akan menembus angka lebih dari Rp50 triliun.
Selain memangkas jadwal, pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). SPPG yang performanya buruk atau tidak sesuai standar akan dikenakan sanksi tegas.
“Istilahnya SPPG nakal itu diskros, dievaluasi. Jadi ini sebagai contoh bagaimana penajaman-penajaman refocusing terus dilakukan,” tegas Juda, sebagaimana dilaporkan oleh CNBC Indonesia.*








