Jakarta | CorongNews – Agresi militer yang dilakukan Israel bersama Amerika Serikat terhadap Republik Islam Iran dinilai membuktikan keraguan internasional terhadap keberadaan Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian.
Amerika Serikat disebut sebagai penggagas sekaligus pemimpin BoP yang selama ini dikampanyekan sebagai forum perdamaian bagi Gaza, Palestina, dengan Israel sebagai salah satu anggotanya.
Anggota DPR RI, TB Hasanuddin, menyatakan bahwa serangan terbuka terhadap Iran memperlihatkan watak asli Israel dan AS sebagai pihak yang justru antiperdamaian meski berada dalam BoP.
Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu menilai, agresi tersebut menjadi bukti bahwa pembentukan BoP untuk mewujudkan perdamaian di Palestina hanyalah retorika.
“Dari kejadian ini (penyerangan terhadap Iran), kita menjadi semakin yakin, tidak percaya bahwa BoP benar-benar memiliki misi yang tulus untuk perdamaian. Yang terjadi saat ini, fakta di lapangan justru menunjukkan eskalasi konflik (perang) yang akan semakin meluas,” kata TB Hasanuddin dalam keterangan pers di Jakarta, Ahad (1/3/2026).
Ia menegaskan, serangan militer Israel-AS terhadap Iran bukan peristiwa biasa. Menurutnya, ambisi perang untuk menghancurkan kepemimpinan Ali Khamenei oleh Presiden AS Donald Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru memperkeruh situasi dan berpotensi memperluas konflik di Timur Tengah.
Kondisi tersebut dinilai akan berdampak langsung pada upaya perdamaian di Palestina yang selama ini digaungkan melalui BoP.
“Dari kejadian ini, kita harus menyimpulkan bahwa tidak mungkin Donald Trump dan Benjamin Netanyahu (pemimpin dan anggota BoP) memiliki niat yang sungguh-sungguh untuk membuat perdamaian di Palestina dan di Timur Tengah. Kondisi saat ini membuat kita semakin meragukan misi perdamaian yang selama ini diklaim melalui BoP,” ujarnya.
Pemerintah Indonesia Diminta Tegas
Terkait perang yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran, TB Hasanuddin mendesak pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk menyampaikan sikap resmi secara jelas.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia menganut prinsip konstitusional yang menolak segala bentuk agresi dan penjajahan serta mendukung perdamaian dunia.
“Presiden dan atau Menteri Luar Negeri harus segera menyampaikan posisi resmi Indonesia. Apalagi pemerintah kita sudah berpartisipasi jauh selama ini tentang isu-isu perdamaian di Timur Tengah,” kata dia.
Menurutnya, keanggotaan Indonesia dalam BoP seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai saluran diplomatik untuk merespons situasi yang berkembang. Ia juga menilai, berbagai pujian internasional terhadap Presiden Prabowo dalam kunjungan diplomatiknya perlu dibuktikan melalui langkah konkret untuk mendorong penghentian agresi terhadap negara-negara berdaulat, termasuk oleh AS maupun Israel.
“Melalui partisipasi dalam BoP, sudah saatnya aktivisme diplomasi kita yang aktif dalam bulan-bulan terakhir ini menunjukkan hasil, apakah benar kita dipandang dan memiliki posisi strategis secara global, atau malah masih jauh panggang dari api,” ujar TB Hasanuddin.*








