CorongNews – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran akhirnya mereda sementara setelah kedua negara menyepakati gencatan senjata selama dua minggu yang dimulai pada Selasa (7/4/2026).
Momentum ini tercapai hanya 90 menit sebelum tenggat waktu yang dipasang oleh Presiden Donald Trump.
Melalui platform Truth Social, Trump mengumumkan pembatalan serangan militer yang semula dijadwalkan malam itu.
Keputusan ini diambil setelah adanya intervensi diplomatik dari Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, dan Marsekal Lapangan Asim Munir.
Trump setuju menunda kekuatan militernya dengan syarat mutlak: Republik Islam Iran harus membuka Selat Hormuz secara penuh, segera, dan aman.
Respons Iran dan Peran Pakistan
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, memberikan respons positif melalui surat resmi Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Teheran menyatakan kesiapannya untuk deeskalasi selama wilayah mereka tidak diserang.
“Jika agresi terhadap Iran dihentikan, militer kami akan menyetop seluruh operasi pertahanan,” tegas Araghchi sebagaimana dilaporkan Al Jazeera.
Iran juga memberikan apresiasi khusus kepada Pakistan atas peran mediasinya. Selama masa gencatan senjata dua minggu ini, pelayaran di Selat Hormuz akan dibuka secara terbatas di bawah koordinasi teknis militer Iran.
Menuju “Islamabad Accord”
Rangkaian dialog lanjutan antara kedua negara direncanakan bakal digelar di Islamabad, Pakistan, mulai Jumat (10/6/26).
Sebagai penengah, Pakistan telah menyusun draf kerangka kerja yang dikenal sebagai “Islamabad Accord”.
Kesepakatan ini dirancang dalam dua fase utama, yakni tahap awal yang berfokus pada penerapan gencatan senjata segera sekaligus pemulihan akses pelayaran di Selat Hormuz.
Setelah itu, memasuki tahap lanjutan, kedua belah pihak diberikan tenggat waktu sekitar 15 hingga 20 hari untuk merumuskan serta merampungkan kesepakatan damai yang lebih komprehensif.
Meski demikian, sumber internal Iran menegaskan bahwa dialog ini bukan berarti perang telah berakhir sepenuhnya, melainkan sebuah langkah awal menuju stabilitas regional.
Daftar Proposal 10 Poin dari Iran
Kantor berita Mehr News Agency mengungkapkan rincian proposal yang diajukan Teheran kepada AS sebagai basis negosiasi, yang meliputi:
Jaminan AS untuk tidak melakukan agresi di masa depan.
Kendali penuh Iran atas Selat Hormuz tetap berlanjut.
Pengakuan atas hak pengayaan nuklir Iran.
Pencabutan sanksi primer dan sekunder.
Pembatalan seluruh resolusi PBB dan IAEA yang menyasar Iran.
Kompensasi atau repatriasi atas kerusakan akibat perang.
Penarikan total militer AS dari kawasan Timur Tengah.
Penghentian pertempuran di semua lini, termasuk di Lebanon.
Sebagai timbal balik, Iran juga tengah mengkaji proposal 15 poin yang diajukan oleh pihak Washington.
Dampak Global: Harga Minyak Anjlok, Pasar Saham Bergairah
Kabar damai ini langsung memberikan napas lega bagi ekonomi global. Harga minyak dunia merosot tajam; minyak mentah WTI jatuh 16% ke angka USD 94,59 per barel, sementara Brent melemah ke level USD 92,35 per barel.
Di sektor keuangan, bursa saham Asia merespons dengan lonjakan signifikan:
Nikkei Jepang: Naik sekitar 5%.
Kospi Korea Selatan: Melonjak hingga 6% hingga memicu trading halt.
IHSG Indonesia: Dibuka menguat tajam 2,75%.
Meski pasar optimis, analis Economist Intelligence Unit, Alex Holmes, memperingatkan bahwa keberlanjutan perdamaian ini masih sangat bergantung pada sikap Israel. Hingga saat ini, pemerintah Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait apakah mereka mendukung penuh kesepakatan ini atau tidak.*








