Amerika Siap Luncurkan Serangan Udara ke Iran, Trump Tunggu Perundingan Terakhir

Pasang Iklan Murah Meriah

Palembang | CorongNews – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan sedang menimbang langkah besar berupa perintah serangan udara ke Iran. Opsi militer ini sangat bergantung pada evaluasi akhir terkait apakah Teheran benar-benar berniat menyepakati pelepasan kemampuan senjata nuklirnya atau sekadar menunda waktu.

Keputusan penting tersebut kini sangat dipengaruhi oleh dua figur dekat Trump, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner, yang berperan sebagai utusan khusus. Penilaian keduanya mengenai peluang tercapainya kesepakatan akan menjadi pertimbangan utama bagi Trump untuk memilih jalur militer atau tetap menempuh diplomasi.

Sampai saat ini, Trump belum mengambil keputusan final. Pemerintahannya masih menunggu proposal terbaru dari Iran pekan ini, menjelang putaran negosiasi terakhir yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 26 Februari, di Jenewa.

Apabila perundingan tidak menghasilkan kesepakatan, Trump disebut telah memberi tahu para penasihatnya bahwa ia mempertimbangkan opsi serangan terbatas guna menekan Iran. Jika upaya tersebut tidak efektif, ia juga menyiapkan kemungkinan operasi militer yang lebih luas untuk memaksa terjadinya perubahan rezim.

Bacaan Lainnya

Seorang pejabat pemerintahan pada Senin menegaskan bahwa Steve Witkoff memegang peran kunci dalam setiap pembahasan strategis terkait konflik ini.

“Witkoff adalah bagian dari kelompok yang menasihati Trump mengenai keputusannya tentang bagaimana melanjutkan hubungan dengan Iran dan telah terlibat dalam semua pertemuan yang terkait dengan masalah tersebut,” ujar pejabat tersebut dikutip Guardian, Selasa (24/2/2026).

Trump sendiri telah menerima sejumlah paparan mengenai opsi militer, termasuk dalam pengarahan terbaru di Situation Room Gedung Putih. Selain Witkoff dan Kushner, lingkaran penasihat utama juga melibatkan Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Direktur CIA John Ratcliffe, serta Menteri Pertahanan Pete Hegseth.

Dalam pembahasan internal, JD Vance dilaporkan menyampaikan pandangan dari dua sisi mengenai rencana serangan udara, sembari menyoroti risiko besar kepada Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine. Kekhawatiran militer terutama berkaitan dengan menipisnya stok sistem pertahanan rudal AS setelah digunakan secara intensif tahun lalu untuk menghadapi serangan balasan Iran.

Menanggapi isu adanya perbedaan pandangan di tubuh Pentagon, juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan profesionalisme Jenderal Caine.

“Caine adalah profesional yang sangat dihormati yang tugasnya mengharuskan pemberian informasi yang tidak memihak kepada Panglima Tertinggi, yang ia lakukan dengan sempurna,” kata Anna Kelly.

Di sisi lain, masih terdapat keraguan di internal pemerintahan mengenai apakah serangan udara akan cukup efektif untuk menjatuhkan kekuasaan Ayatollah Ali Khamenei. Para pejabat juga mempertimbangkan opsi kompromi, seperti memperbolehkan Iran tetap melakukan pengayaan nuklir secara terbatas untuk kebutuhan medis atau energi sipil.

Meski demikian, sikap kedua pihak tampak semakin tegas menjelang pertemuan di Jenewa. Steve Witkoff menekankan bahwa posisi Amerika Serikat tidak berubah terkait isu nuklir Iran.

“Arahan Trump adalah untuk memastikan Iran tidak akan mempertahankan kemampuan pengayaan nuklir sama sekali,” ujar Witkoff dalam siaran Fox News.

Pernyataan tersebut langsung ditolak oleh Teheran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan sikap negaranya dalam wawancara televisi internasional.

“Teheran tidak siap untuk melepaskan pengayaan nuklir,” tegas Araghchi dalam program Face the Nation di CBS.

Sebagai langkah antisipasi, Amerika Serikat telah mengerahkan konsentrasi kekuatan udara terbesarnya di Timur Tengah sejak invasi Irak tahun 2003. Kapal induk USS Gerald Ford dijadwalkan tiba untuk memperkuat armada jet tempur F-35 dan F-22, sehingga memberi Trump opsi melancarkan kampanye udara besar secara berkelanjutan.*

 

Editor : Noviani DP

Pos terkait