Palembang | CorongNews – Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat dikenal sangat kompleks dan sarat dinamika. Kondisi bilateral yang kerap memanas lalu mereda ini terus menjadi perhatian dunia internasional.
Awal mula ketegangan modern kedua negara dapat ditelusuri ke tahun 1953. Peristiwa kudeta pada tahun tersebut menjadi titik penting yang memperuncing hubungan Iran dan Amerika Serikat.
Amerika Serikat berada di balik kudeta yang bertujuan menjatuhkan Perdana Menteri Iran yang dipilih secara demokratis, Mohammad Mosaddegh. Peristiwa ini membuka jalan bagi Shah Mohammad Reza Pahlavi yang pro-Barat untuk kembali berkuasa.
Pahlavi dikenal memiliki kedekatan kuat dengan Amerika Serikat dan banyak bergantung pada dukungan Washington untuk mempertahankan kekuasaannya. Namun, ia akhirnya digulingkan dalam Revolusi Iran tahun 1979.
Sejak saat itu, hubungan kedua negara terus diwarnai berbagai peristiwa besar yang membentuk dinamika panjang antara Teheran dan Washington.
Lini Masa Hubungan Iran dan Amerika Serikat 1953–2026
Naik turunnya hubungan kedua negara dapat ditelusuri melalui sejumlah peristiwa penting berikut:
1. Tahun 1953: Penggulingan Mosaddegh
Tahun 1953 menjadi tonggak awal ketegangan serius antara Iran dan Amerika Serikat. Kudeta yang dikenal sebagai Kudeta 28 Mordad menggulingkan Mohammad Mosaddegh dengan dukungan Amerika Serikat dan Inggris.
Mosaddegh sebelumnya menasionalisasi Perusahaan Minyak Anglo-Persia milik Inggris, yang memicu embargo minyak dari London. Dengan dukungan Washington, Mohammad Reza Pahlavi naik menggantikannya.
Namun, Pahlavi tidak populer di dalam negeri dan sangat bergantung pada dukungan Barat hingga akhirnya digulingkan pada 1979.
2. Tahun 1957: Program Atom untuk Perdamaian
Iran dan Amerika Serikat menandatangani kerja sama penggunaan energi atom untuk tujuan damai atas inisiatif Presiden Dwight D. Eisenhower.
Satu dekade kemudian, AS memasok reaktor nuklir dan bahan bakar uranium ke Iran. Kerja sama ini menjadi fondasi awal program nuklir Iran yang kemudian berkembang menjadi isu internasional setelah Revolusi 1979.
3. Tahun 1979: Revolusi Iran
Revolusi Islam 1979 mengubah total hubungan kedua negara. Shah Pahlavi digulingkan dan digantikan oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang mendirikan Republik Islam Iran dengan sikap anti-Barat yang kuat.
Tak lama kemudian, 52 diplomat Amerika disandera selama 444 hari, yang menyebabkan hubungan diplomatik kedua negara terputus dan memburuk drastis.
4. Tahun 1980–1988: Perang Iran–Irak
Selama perang panjang antara Iran dan Irak, Amerika Serikat secara resmi menyatakan netral, tetapi dalam praktiknya memberi dukungan kepada Irak melalui bantuan ekonomi dan teknologi.
Bahkan setelah muncul bukti penggunaan senjata kimia oleh Irak terhadap Iran, dukungan tersebut tetap berlanjut. Konflik ini menewaskan ratusan ribu hingga lebih dari satu juta orang dari kedua belah pihak.
5. Tahun 1992–1996: Pengetatan Sanksi
Pada era Presiden George H.W. Bush dan Bill Clinton, AS memperluas sanksi terhadap Iran.
Undang-Undang Nonproliferasi Senjata Iran-Irak 1992 dan embargo total tahun 1995 membatasi perdagangan dan investasi, terutama di sektor energi.
Pada 1996, sanksi juga menyasar perusahaan asing yang berinvestasi besar di sektor minyak dan gas Iran.
6. Tahun 2002: “Poros Kejahatan”
Presiden George W. Bush menyebut Iran sebagai bagian dari “poros kejahatan” bersama Irak dan Korea Utara, dengan tudingan mendukung terorisme global.
7. Tahun 2012: Rial Terpuruk
Akibat sanksi internasional, mata uang Iran, rial, anjlok hingga kehilangan sekitar 80 persen nilainya sejak 2011.
8. Tahun 2013–2015: Kesepakatan Nuklir (JCPOA)
Pada masa Presiden Barack Obama, perundingan intensif menghasilkan kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
Iran sepakat membatasi program nuklirnya dengan imbalan pelonggaran sanksi. Kesepakatan ini juga melibatkan Tiongkok, Rusia, Prancis, Jerman, Inggris, dan Uni Eropa.
9. Tahun 2018–2020: AS Keluar dari Kesepakatan
Pada 2018, Amerika Serikat menarik diri secara sepihak dari JCPOA dan kembali menjatuhkan sanksi berat.
Iran kemudian melanggar batas pengayaan uranium yang disepakati. Pada 2020, AS membunuh Jenderal Qassem Soleimani dalam serangan drone di Baghdad, yang memicu ketegangan lebih lanjut dan serangan balasan Iran terhadap aset AS di Irak.
10. Tahun 2025: Surat dan Serangan
Pada Maret 2025, Trump mengirim surat kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei untuk menawarkan negosiasi baru dengan tenggat waktu 60 hari. Tawaran tersebut ditolak.
Meski sempat mengklaim hampir mencapai kesepakatan, ketegangan tetap meningkat. Israel melancarkan serangan sehari sebelum putaran pembicaraan berikutnya, dan pada tahun yang sama AS mengebom tiga fasilitas nuklir utama Iran. Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Qatar.
11. Tahun 2026: Gelombang Demonstrasi dan Ancaman Baru
Pada akhir Desember 2025, demonstrasi besar meletus di Iran akibat krisis ekonomi dan anjloknya mata uang. Protes meluas dan diwarnai kekerasan, disertai pemadaman internet serta ribuan korban jiwa dan penahanan.
Trump mengancam akan mengambil tindakan militer jika korban terus bertambah, sementara Khamenei menegaskan rezim tidak akan mundur.
Meski kedua pihak menyatakan keinginan bernegosiasi, AS juga mempertimbangkan opsi militer, sedangkan Iran menyatakan kesiapan menghadapi perang.
Trump kemudian mengumumkan tarif 25 persen bagi negara yang berbisnis dengan Iran dan membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Teheran.
Perjalanan panjang hubungan Iran dan Amerika Serikat dipenuhi berbagai konflik politik, ekonomi, dan militer yang terus membentuk dinamika keduanya. Hubungan yang kerap naik turun ini tampaknya akan terus menjadi salah satu isu geopolitik paling sensitif di dunia.*
Editor : Noviani DP








