Selat Hormuz Lumpuh ! 150 Kapal Tanker Berlabuh, Harga Minyak Dunia Bergejolak

Pasang Iklan Murah Meriah

CorongNews – Sedikitnya tiga kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan di sekitar Selat Hormuz, di tengah berlanjutnya aksi militer Iran di kawasan Timur Tengah sebagai respons atas operasi Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyatakan dua kapal terdampak serangan, sementara sebuah proyektil yang belum teridentifikasi meledak sangat dekat dengan kapal ketiga.

Mengutip BBC, Senin (2/3/26), Iran sebelumnya telah memperingatkan kapal-kapal agar tidak melintasi Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia.

Lalu lintas pelayaran internasional di pintu masuk selat tersebut hampir lumpuh. Kekhawatiran atas terganggunya distribusi energi global pun memicu lonjakan harga minyak.

Bacaan Lainnya

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim tiga kapal tanker milik Inggris dan AS menjadi target serangan rudal hingga terbakar. Hingga kini, pemerintah Inggris dan AS belum menyampaikan tanggapan resmi.

UKMTO juga melaporkan adanya “beberapa insiden keamanan” di Teluk Arab dan Teluk Oman, serta mengimbau kapal-kapal yang melintas agar meningkatkan kewaspadaan.

Berdasarkan data platform pelacakan kapal Kpler, sedikitnya 150 kapal tanker memilih menjatuhkan jangkar di perairan Teluk, di luar Selat Hormuz. Meski demikian, sejumlah kapal berbendera Iran dan China dilaporkan masih melintasi jalur tersebut.

“Iran secara efektif telah menutup selat itu,” kata analis Kpler, Homayoun Falakshahi, kepada BBC News. Ia menjelaskan para operator kapal enggan memasuki selat karena tingginya risiko keamanan dan melonjaknya premi asuransi.

Falakshahi menilai AS kemungkinan akan berupaya mengamankan jalur pelayaran tersebut. Jika langkah itu berhasil, kenaikan harga minyak dapat ditekan. Namun, bila penutupan berlangsung lama, harga berpotensi melonjak jauh lebih tinggi.

UKMTO menyebut dua kapal yang tidak diidentifikasi terkena proyektil tak dikenal hingga memicu kebakaran. Sementara itu, satu proyektil lain meledak sangat dekat dengan kapal ketiga, namun seluruh awak dilaporkan selamat.

Insiden keempat juga terjadi dan melibatkan evakuasi awak kapal, meski penyebab pastinya belum diketahui.

Perusahaan keamanan maritim swasta Vanguard Tech menyatakan insiden-insiden tersebut melibatkan kapal berbendera Gibraltar, Palau, Kepulauan Marshall, dan Liberia.

Di sisi lain, perusahaan pelayaran asal Denmark, Maersk, mengumumkan penghentian sementara pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb dan Terusan Suez. Kapal-kapalnya dialihkan memutari Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Perdagangan minyak Brent dijadwalkan dibuka pada pukul 23.00 GMT Ahad. Namun, transaksi di luar bursa mengindikasikan harga telah melonjak sekitar 10 persen hingga mencapai 80 dolar AS per barel.

Sejumlah analis memperkirakan harga minyak bisa menembus 100 dolar AS per barel apabila konflik berkepanjangan.

Kelompok produsen minyak OPEC+ yang mencakup Arab Saudi dan Rusia sepakat menaikkan produksi sebesar 206 ribu barel per hari guna meredam lonjakan harga. Meski demikian, sebagian pengamat meragukan efektivitas kebijakan tersebut dalam menstabilkan pasar.

Presiden AA Inggris, Edmund King, memperingatkan bahwa gangguan distribusi minyak berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar secara global.

“Gejolak dan pemboman di Timur Tengah hampir pasti mengganggu distribusi minyak global, yang pada akhirnya akan memicu kenaikan harga,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa besarnya kenaikan harga bahan bakar serta lamanya dampak tersebut sangat bergantung pada durasi konflik yang terjadi.*

Pos terkait