Jakarta | CorongNews – Pemerintah tengah menyusun strategi penghematan energi sebagai respons terhadap dampak konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang turut memengaruhi kondisi ekonomi, baik global maupun dalam negeri.
Salah satu dampak yang paling terasa adalah melonjaknya harga minyak dunia hingga menembus USD 100 per barel. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan di kawasan strategis seperti Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak global.
Situasi tersebut memberi tekanan pada fiskal Indonesia dan mendorong pemerintah untuk melakukan efisiensi di berbagai sektor. Salah satu sektor yang terdampak adalah pendidikan. Pemerintah pun membuka kemungkinan untuk kembali menerapkan pembelajaran daring sebagai bagian dari strategi penghematan energi nasional.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menyampaikan bahwa penyesuaian sistem pembelajaran akan mulai diberlakukan pada April 2026. Skema yang digunakan adalah kombinasi antara pembelajaran daring dan luring, dengan mempertimbangkan karakteristik tiap mata pelajaran.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan yang bersifat praktikum tetap akan dilakukan secara tatap muka demi menjaga kualitas pembelajaran. Sementara itu, materi yang bersifat teori dapat disampaikan secara daring untuk mendukung upaya penghematan energi.
Selain di sektor pendidikan, kebijakan efisiensi juga akan diterapkan pada operasional perkantoran dan aktivitas pemerintahan lainnya. Pratikno menegaskan bahwa kebijakan ini dirancang agar tidak mengganggu pelayanan publik maupun aktivitas masyarakat secara signifikan.
“Langkah ini diharapkan tidak menimbulkan dampak negatif yang berlebihan, sekaligus memastikan layanan publik tetap berjalan optimal,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kebijakan ini disusun berdasarkan data serta pengalaman pemerintah dalam mengatur mobilitas masyarakat saat pandemi Covid-19, yang dinilai masih relevan untuk diterapkan dalam konteks penghematan energi saat ini
Pemerintah sendiri telah merumuskan lima strategi utama dalam upaya efisiensi energi lintas sektor. Pertama, penerapan sistem kerja fleksibel bagi aparatur sipil negara (ASN), termasuk tenaga pendidik seperti guru. Kedua, memaksimalkan penggunaan platform digital dalam berbagai layanan
Ketiga, mengurangi mobilitas dengan membatasi perjalanan dinas. Keempat, melakukan penghematan energi dalam operasional gedung perkantoran. Dan kelima, menerapkan sistem pembelajaran campuran antara daring dan luring sesuai kebutuhan.
Melalui langkah-langkah tersebut, pemerintah menargetkan efisiensi energi dapat berjalan secara efektif tanpa mengorbankan kualitas layanan publik maupun proses pendidikan di Indonesia.*








