Palembang | CorongNews – Ukraina tengah mengadopsi langkah baru untuk mencegah krisis demografi di tengah perang yang masih berkecamuk dengan Rusi, para pria, terutama prajurit, diminta membekukan sperma mereka.
Mengutip BBC, Selasa (17/2/2026), praktik ini mulai ditawarkan beberapa klinik di Ukraina sejak 2022, tepat di awal invasi Rusia. Program ini memungkinkan pria maupun wanita membekukan sperma atau sel telur secara gratis, sebagai bentuk perlindungan terhadap kesuburan mereka jika terkena risiko cedera atau meninggal di medan perang.
Ide tersebut kemudian dibawa ke parlemen pada 2023, dengan pemerintah diminta menanggung biaya pembekuan bagi warga yang terlibat langsung dalam konflik.
“Para prajurit kita membela masa depan kita, tetapi mungkin kehilangan masa depan mereka sendiri, jadi kami ingin memberi mereka kesempatan itu,” ujar anggota parlemen Oksana Dmitrieva, yang turut merancang undang-undang terkait.
Menurutnya, kebijakan ini memberi kesempatan bagi tentara untuk memanfaatkan sperma mereka di masa mendatang.
Awalnya, kebijakan ini menghadapi kendala karena ada aturan yang mengharuskan sampel sperma dan sel telur dimusnahkan apabila pendonor meninggal.
Protes publik kemudian memicu revisi. Kini, sperma dan sel telur tentara dapat diawetkan secara gratis hingga tiga tahun setelah kematian, dengan catatan hanya bisa digunakan oleh pasangan yang sudah memberikan persetujuan tertulis sebelumnya.
Program ini juga menjadi upaya untuk menangani masalah demografi yang sudah ada sebelum invasi. Kehilangan banyak pria muda dan bugar di medan perang diperparah oleh jutaan pengungsi, sebagian besar perempuan, yang masih berada di luar negeri empat tahun setelah konflik dimulai.
Di Pusat Kedokteran Reproduksi Kyiv, banyak tentara mulai mendaftar program ‘sperma beku’ pada Januari 2026. Meskipun baru selusin yang tercatat, pihak klinik optimistis jumlah peserta akan meningkat seiring kabar program ini menyebar.
“Kami mengharapkan permintaan yang besar. Kami memiliki harapan yang tinggi,” ujar direktur Oksana Holikova.
Upaya ini terus diperbaiki, parlemen Ukraina, menurut Oksana Dmitrieva, dijadwalkan melakukan pemungutan suara pada Mei mendatang untuk memastikan keluarga tentara dapat menggunakan sperma atau sel telur anggota keluarga yang gugur.*
v)








