PBB Desak Investigasi Cepat Serangan Sekolah di Iran yang Tewaskan 150 Orang

Pasang Iklan Murah Meriah

CorongNews – Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, Volker Türk, menyerukan dilakukannya penyelidikan segera atas serangan mematikan yang menghantam sebuah sekolah dasar di wilayah selatan Iran.

Seruan tersebut muncul setelah hasil investigasi media mengindikasikan bahwa serangan itu kemungkinan besar dilakukan oleh militer Amerika Serikat.

Serangan dilaporkan terjadi pada hari pertama pecahnya perang, Sabtu lalu, ketika sebuah sekolah dasar di kota Minab terkena serangan udara. Menurut pejabat Iran, sedikitnya 150 orang meninggal dunia akibat insiden tersebut.

Türk mengecam keras peristiwa itu dan menyebutnya sebagai tragedi besar. Ia menegaskan bahwa investigasi harus dilakukan secara cepat dan transparan.

Bacaan Lainnya

“Ini merupakan insiden yang benar-benar tragis. Saya berharap penyelidikan dilakukan secepat mungkin dan dengan transparansi penuh,” kata Türk kepada wartawan di Geneva seperti dilaporkan oleh Agence France-Presse.

Ia juga menekankan bahwa pihak yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban.

“Kami juga berharap adanya akuntabilitas, karena jelas ada kesalahan yang terjadi,” ujarnya.

Sampai saat ini baik Israel maupun Amerika Serikat belum mengakui secara resmi keterlibatan mereka dalam serangan tersebut. Sekolah yang terkena serangan diketahui berada tidak jauh dari sejumlah fasilitas militer milik Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

Sementara itu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat menyatakan bahwa mereka tengah melakukan penyelidikan terkait kejadian tersebut.

Sebuah laporan investigasi yang diterbitkan oleh The New York Times pada Kamis menyebutkan bahwa pernyataan militer AS mengenai operasi terhadap target angkatan laut di sekitar Selat Hormuz menunjukkan kemungkinan besar pasukan AS berada di balik serangan tersebut.

Analisis terhadap unggahan media sosial saat kejadian, serta foto dan video dari saksi di lokasi, memperlihatkan bahwa Shajare Tayyebeh School terkena serangan pada waktu yang hampir bersamaan dengan serangan terhadap pangkalan angkatan laut IRGC di daerah itu.

Dua pejabat Amerika Serikat yang identitasnya dirahasiakan juga mengatakan kepada Reuters bahwa para penyelidik militer “meyakini kemungkinan besar” pasukan AS menjadi pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Namun, AFP menyatakan bahwa pihaknya belum dapat mengakses langsung lokasi kejadian untuk memverifikasi secara independen jumlah korban maupun kronologi peristiwa.

Kepala perwira militer tertinggi Amerika Serikat, Dan Caine, sebelumnya juga mengungkapkan bahwa militer AS memang melakukan serangan di wilayah selatan Iran pada waktu yang sama.

Menurut laporan The New York Times, Caine bahkan sempat menunjukkan sebuah peta yang menggambarkan wilayah yang mencakup Minab sebagai bagian dari area yang menjadi target dalam 100 jam pertama operasi militer tersebut.

Kota Minab sendiri terletak sekitar 25 kilometer dari Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Caine juga menyebutkan bahwa operasi militer yang dilakukan oleh Israel sebagian besar berlangsung di wilayah utara Iran.

Türk menyambut baik pernyataan pemerintah Amerika Serikat yang menyatakan akan melakukan penyelidikan. Namun, ia menegaskan bahwa proses tersebut harus berjalan dengan cepat.

“Kami membutuhkan proses ini dilakukan dengan sangat cepat. Selain itu, penting juga memastikan adanya akuntabilitas serta pemulihan bagi para korban,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan kekhawatiran serius mengenai kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional dalam konflik yang sedang berlangsung.

“Ada kekhawatiran signifikan terkait penghormatan terhadap hukum humaniter internasional, terutama mengenai cara operasi militer dijalankan, termasuk langkah-langkah kehati-hatian, prinsip pembedaan target, serta prinsip proporsionalitas,” kata Türk.

Ia menegaskan bahwa sekolah merupakan fasilitas sipil yang seharusnya tidak pernah menjadi sasaran serangan militer.

“Jika yang diserang adalah sebuah sekolah, jelas itu merupakan institusi sipil yang tidak boleh menjadi target,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya masih ada sejumlah pertanyaan penting mengenai jenis senjata yang digunakan serta waktu terjadinya serangan.

“Serangan terjadi pada pagi hari, saat kemungkinan besar anak-anak sedang berada di sekolah. Faktor-faktor ini harus diperhitungkan,” tambahnya.

Kelompok pemantau HAM yang berbasis di Norwegia, Hengaw Organization for Human Rights, melaporkan bahwa sekolah tersebut sedang menjalankan kegiatan belajar pagi saat serangan terjadi, dengan perkiraan sekitar 170 siswa berada di lokasi.

Türk mengatakan tragedi tersebut memberikan pelajaran pahit bagi komunitas internasional.

“Ada pelajaran yang sangat mengerikan dan tragis ketika anak-anak perempuan terbunuh dengan cara seperti ini,” katanya.

Ia berharap insiden tersebut tidak hanya diikuti dengan jaminan agar kejadian serupa tidak terulang, tetapi juga evaluasi menyeluruh terhadap prosedur operasi militer yang berlaku.

“Saya berharap tidak hanya ada jaminan bahwa peristiwa seperti ini tidak akan terulang, tetapi juga dilakukan peninjauan terhadap seluruh prosedur operasi standar yang berkaitan dengan situasi seperti ini,” ujarnya.

Türk menegaskan bahwa tanggung jawab untuk melakukan penyelidikan kini berada pada pihak yang melancarkan serangan.

“Beban tanggung jawab sekarang sepenuhnya berada pada pihak yang melakukan serangan ini untuk menjalankan penyelidikan tersebut,” kata dia.

“Kami berharap akuntabilitas benar-benar ditegakkan.”*

Pos terkait