Pasokan Terganggu, Harga Melonjak, Stok Bahan Baku Kemasan Plastik Menipis

Pasang Iklan Murah Meriah

Jakarta | CorongNews – Pasokan bahan baku plastik untuk industri kemasan diperkirakan hanya mampu mencukupi kebutuhan hingga sekitar tiga bulan ke depan. Kondisi ini dipicu oleh terbatasnya suplai dari kawasan Timur Tengah.

Ketua Indonesian Packaging Federation, Henky Wibawa, menjelaskan bahwa industri kemasan nasional masih sangat bergantung pada bahan baku impor, terutama polypropylene (PP) dan polyethylene (PE) yang menjadi komponen utama kemasan plastik. Selama ini, pasokan bahan baku tersebut banyak berasal dari Singapura, Thailand, China, India, dan Korea Selatan, serta sebagian kecil dari Timur Tengah.

Menurut Henky, gangguan pasokan yang terjadi akibat konflik geopolitik tidak hanya berdampak langsung dari kawasan Timur Tengah, tetapi juga merambat ke negara-negara pemasok lainnya.

“Beberapa pemasok bahkan sudah menyatakan force majeure karena rantai pasok mereka juga terdampak. Saat ini industri masih mengandalkan stok yang tersedia,” ujar Henky melansir Katadata, Kamis (2/4/26).

Bacaan Lainnya

Ia juga mengungkapkan bahwa terganggunya rantai pasok ini berdampak pada lonjakan harga bahan baku. Harga penawaran plastik kini meningkat tajam, bahkan mencapai sekitar 1,5 hingga 2 kali lipat dibandingkan sebelum terjadi gangguan global.

Terkait ketersediaan, Henky menyebutkan bahwa sulit untuk memastikan kondisi ke depan karena adanya status force majeure dari sejumlah pemasok. Meski demikian, secara umum stok bahan baku di industri kemasan diperkirakan masih cukup untuk 2–3 bulan, bergantung pada perkembangan situasi pasokan.

Sebagai langkah antisipasi, pelaku industri mulai menjajaki penggunaan material alternatif bersama produsen barang konsumsi cepat saji atau fast moving consumer goods (FMCG).

Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah mengganti bahan kemasan fleksibel dari polypropylene menjadi poliester, yang sejauh ini belum terdampak gangguan pasokan. Selain itu, penggunaan kemasan berbasis kertas juga mulai dilirik sebagai alternatif, selama masih memungkinkan untuk digunakan.

Di sisi pasar, Henky menyebut bahwa penjualan industri kemasan masih didominasi oleh pasar domestik dengan porsi sekitar 85–90%. Permintaan terbesar berasal dari sektor makanan dan minuman yang menyumbang sekitar 60–70%, disusul sektor perawatan pribadi dan rumah tangga seperti sabun serta deterjen dengan kontribusi sekitar 20–30%.

Ia menilai prospek industri kemasan di Indonesia masih cukup menjanjikan, didorong oleh pertumbuhan jumlah penduduk, perkembangan distribusi logistik, serta ekspansi ritel modern dan e-commerce yang meningkatkan kebutuhan akan kemasan.

Meski demikian, industri ini tetap menghadapi sejumlah tantangan, baik dari sisi regulasi dalam negeri maupun ketidakpastian geopolitik global yang berpotensi memengaruhi pasokan bahan baku dan biaya produksi.

“Namun kami tetap melihat industri kemasan di Indonesia masih memiliki peluang tumbuh, terutama dengan adanya investasi baru dari luar negeri di sektor kemasan,” ujar Henky.*

Pos terkait