CorongNews – Isu child grooming kembali mendapat perhatian publik setelah artis Aurelie Moeremans secara terbuka membagikan pengalaman traumatis yang dialaminya di masa lalu. Pengakuan tersebut menjadi pengingat bahwa kekerasan seksual terhadap anak tidak selalu terjadi secara terang-terangan, melainkan sering diawali melalui proses manipulasi psikologis yang berlangsung perlahan dan sulit dikenali.
Apa Itu Child Grooming?
Child grooming merupakan pola perilaku di mana pelaku secara bertahap membangun kedekatan emosional dengan anak atau remaja dengan tujuan eksploitasi seksual. Proses ini biasanya melibatkan pemberian perhatian berlebih, pujian, rasa aman palsu, hingga upaya membuat korban bergantung secara emosional.
Berbeda dengan kekerasan fisik yang terlihat jelas, child grooming sering kali tidak disadari korban karena dibungkus dalam bentuk relasi yang tampak “normal” atau bahkan dianggap sebagai bentuk kepedulian.
Pengalaman Aurelie Moeremans
Aurelie Moeremans mengungkap bahwa dirinya mengalami child grooming sejak usia muda. Saat itu, ia belum memiliki pemahaman yang cukup untuk mengenali bahwa perhatian dan perlakuan tertentu merupakan bentuk manipulasi.
Kesadaran tersebut baru muncul ketika ia telah dewasa dan mampu melihat kembali pengalaman tersebut dengan sudut pandang yang lebih matang.
Pengakuan ini mencerminkan kondisi banyak korban child grooming yang baru menyadari telah mengalami kekerasan setelah bertahun-tahun berlalu. Hal ini kerap membuat proses pemulihan menjadi lebih panjang dan kompleks.
Pandangan Psikolog: Korban Tidak Pernah Bersalah
Psikolog klinis anak dan remaja menegaskan bahwa dalam kasus child grooming, korban sama sekali tidak dapat disalahkan. Menurut psikolog, pelaku biasanya memiliki kemampuan manipulasi yang tinggi dan sengaja memanfaatkan kondisi psikologis anak yang masih berkembang.
“Pelaku grooming sangat memahami cara membangun kepercayaan anak. Mereka perlahan mengaburkan batas antara perhatian yang wajar dan perilaku yang melanggar, sehingga korban sering kali merasa bingung dan tidak sadar sedang dimanipulasi,” ujar seorang psikolog anak.
Psikolog juga menjelaskan bahwa anak cenderung menuruti pelaku karena adanya ketimpangan usia, kuasa, dan pengalaman. Kondisi ini membuat korban sulit menolak, apalagi melaporkan, karena takut tidak dipercaya atau merasa ikut bersalah.
Modus yang Kerap Terjadi
Pelaku child grooming umumnya memulai dengan pendekatan emosional, seperti menjadi tempat curhat, memberikan hadiah, atau menunjukkan empati berlebihan. Dalam beberapa kasus, pelaku juga secara perlahan menormalisasi perilaku yang tidak pantas agar korban menganggapnya sebagai hal biasa.
Menurut psikolog, proses ini dilakukan secara bertahap agar korban tidak merasa sedang dilanggar. “Inilah yang membuat child grooming sangat berbahaya, karena kerusakan psikologisnya sering baru terasa di kemudian hari,” jelasnya.
Dampak Psikologis Jangka Panjang
Child grooming dapat menimbulkan dampak jangka panjang, seperti trauma psikologis, kecemasan berlebih, depresi, gangguan kepercayaan terhadap orang lain, hingga kesulitan membangun hubungan yang sehat di masa dewasa. Banyak korban juga mengalami rasa malu dan menyalahkan diri sendiri.
Psikolog menekankan bahwa keberanian korban untuk berbicara, seperti yang dilakukan Aurelie Moeremans, merupakan langkah penting dalam proses penyembuhan. Dukungan lingkungan yang aman dan tidak menghakimi sangat dibutuhkan agar korban berani mencari bantuan profesional.
Pentingnya Edukasi dan Pencegahan
Para psikolog menilai pencegahan child grooming harus dimulai dari edukasi sejak dini. Anak perlu diajarkan tentang batasan tubuh, relasi yang sehat, serta hak untuk berkata tidak ketika merasa tidak nyaman. Orang tua dan pendidik juga perlu membangun komunikasi terbuka agar anak merasa aman untuk bercerita.
Di era digital, child grooming juga banyak terjadi melalui media sosial dan platform daring. Karena itu, literasi digital dan pendampingan orang dewasa menjadi kunci penting dalam melindungi anak dari potensi kejahatan seksual.
Pengalaman Aurelie Moeremans menegaskan bahwa child grooming adalah bentuk kekerasan seksual yang nyata, meski kerap tersembunyi di balik relasi yang tampak wajar.
Pandangan psikolog mengingatkan bahwa tanggung jawab sepenuhnya berada pada pelaku, bukan korban.
Dengan meningkatkan kesadaran, edukasi, serta dukungan psikologis yang memadai, diharapkan lebih banyak anak dapat terlindungi dan para penyintas berani bersuara tanpa rasa takut.*
V)








