CorongNews – Serangan udara yang terus berlangsung memicu kepanikan di Iran. Sejumlah warga dilaporkan mulai meninggalkan ibu kota Teheran demi mencari tempat yang lebih aman. Di sisi lain, masyarakat Israel memilih berlindung di bunker dan ruang bawah tanah untuk menghindari ancaman serangan balasan.
Tak hanya warga sipil, para pejabat tinggi Israel juga memanfaatkan fasilitas perlindungan khusus. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu disebut menggelar rapat darurat dari sebuah bunker bawah tanah di tengah meningkatnya ketegangan.
Mengutip laporan Modern AZ, Minggu (1/3/26), harian Yedioth Ahronoth memberitakan bahwa Netanyahu bersama sejumlah pejabat keamanan mengadakan pertemuan membahas serangan terhadap Iran.
Disebutkan bahwa rapat tersebut dilangsungkan di lokasi bawah tanah sebagai langkah antisipasi terhadap potensi serangan Iran yang dapat mengancam keselamatan para pemimpin Israel.
“Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan para pejabat keamanan senior sedang mengadakan diskusi dan rapat di lokasi bawah tanah,” tulis surat kabar tersebut.
Menariknya, bunker yang digunakan bukan berada di lokasi terpencil. Fasilitas itu justru terletak di pusat kota dan dekat dengan jalan utama, sehingga tidak tampak seperti tempat persembunyian rahasia.
Menurut laporan The War Zone, Israel memiliki bunker yang dikenal sebagai National Management Centre (NMC) atau pusat manajemen nasional.
Fasilitas ini menjadi tempat perlindungan bagi menteri dan pejabat tinggi, termasuk perdana menteri.
Selain berfungsi sebagai tempat berlindung, bunker tersebut juga menjadi pusat komando dan kendali pemerintahan.
Dengan demikian, roda pemerintahan tetap dapat berjalan dalam situasi krisis besar melalui konsep continuity of government (COG).
Lokasinya berada di kawasan National Quarter, Yerusalem, berdekatan dengan Knesset, Kementerian Luar Negeri, Kantor Perdana Menteri, hingga Mahkamah Agung.
Keberadaannya tidak sepenuhnya dirahasiakan, meskipun fungsi strategisnya sangat vital.
Bunker ini dibangun pasca-Perang Lebanon 2006, konflik selama 34 hari antara Lebanon dan Israel.
Pembangunan fasilitas tersebut diklaim untuk melindungi pejabat tinggi dari ancaman serangan rudal di masa mendatang, dengan dukungan teknologi canggih.
Secara tampilan luar, bangunannya tidak mencolok dan bahkan lebih menyerupai museum modern. Letaknya yang berada di seberang teater ternama membuat banyak orang tak menyadari bahwa bangunan tersebut merupakan bunker bawah tanah.
Strukturnya tidak memiliki jendela dan didominasi dinding beton tebal. Akses masuk kendaraan dirancang berkelok, sementara pintu masuk utama menuju bagian bawah hanya dapat ditempuh menggunakan lift.
Meski dari luar terlihat relatif kecil, bagian bawah tanahnya mampu menampung ratusan orang dalam waktu lama. Fasilitas ini disebut dirancang untuk melindungi penghuninya dari serangan rudal hingga ancaman senjata nuklir.
Laporan CTech menyebutkan di dalam bunker tersedia ruang rapat besar, ruang kerja menteri dan perdana menteri, kamar tidur, hingga area kafe.
Sumber yang pernah memasuki fasilitas tersebut mengatakan sekitar 95 persen bangunan berada di bawah tanah.
Ia menggambarkan pengalaman turun menggunakan lift menuju bunker seperti berada dalam film fiksi ilmiah, dengan suasana yang sepenuhnya terpisah dari dunia luar karena luas dan canggihnya fasilitas tersebut.
Disebutkan pula bahwa desain bunker ini terinspirasi dari kota bawah tanah tertutup milik Amerika Serikat. Tak heran jika fasilitas itu mampu menampung ratusan orang dan dirancang untuk operasional jangka panjang.
Berbeda dengan Israel, sejumlah bunker di Amerika Serikat umumnya dirahasiakan dan berada di lokasi tersembunyi, seperti di bawah Gedung Putih, Pentagon, atau di kawasan pegunungan utara Washington DC.
Bunker di Yerusalem itu juga pernah difungsikan dalam rencana darurat saat pandemi COVID-19 pada 2020. Fasilitas tersebut digunakan untuk mengelola dan memantau penanganan wabah secara terpusat.
Sejumlah pihak meyakini bahwa bunker ini bukan hanya dibangun untuk menghadapi serangan rudal atau senjata kimia. Lebih dari itu, ada anggapan bahwa fasilitas tersebut dipersiapkan untuk menghadapi skenario krisis paling ekstrem di masa depan yakni hari kiamat.*








