CorongNews – Jagat media sosial tengah ramai membahas pernyataan kreator konten gaya hidup sehat, Chef Chitra, yang memutuskan berhenti memakai kuku palsu. Ia menyebut bahan kimia pada lem kuku berbahaya karena bisa masuk dan menetap di dalam tubuh.
Pernyataan itu memicu perdebatan, terutama di tengah meningkatnya tren nail art dan kuku gel. Sejumlah warganet pun mulai mempertanyakan keamanan produk kecantikan tersebut.
Menanggapi hal itu, dosen Dermatologi dan Venereologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dr. Medhi Denisa Alinda, dr., Sp.DVE, Subsp.D.T, menegaskan bahwa penggunaan kuku palsu memang memiliki risiko, tetapi harus dipahami berdasarkan bukti ilmiah.
Risiko Infeksi Lebih Dominan
Menurut Medhi, risiko utama kuku palsu bukanlah bahan kimia yang “menetap” permanen di tubuh, melainkan gangguan pada kuku dan jaringan di sekitarnya.
“Dapat meningkatkan risiko infeksi jamur dan bakteri, terutama bila prosedur pemasangan serta pelepasan tidak dilakukan dengan benar,” ujarnya mengutip Kompas, belum lama ini.
Ia menjelaskan, proses pemasangan kerap melibatkan manipulasi mekanis, seperti mengangkat eponikium dengan alat tajam dan mendorong kutikula menggunakan spatula logam. Tindakan tersebut dapat menimbulkan abrasi mikro pada lipatan kuku.
“Luka kecil yang sering tidak disadari itu bisa menciptakan ruang di atas dan di bawah lempeng kuku. Celah tersebut menjadi pintu masuk bakteri maupun jamur,” jelasnya.
Selain itu, kondisi tertutup dan lembap di bawah kuku palsu dinilai dapat mempercepat pertumbuhan mikroorganisme. Risiko akan meningkat bila kuku palsu digunakan dalam jangka panjang tanpa evaluasi kondisi kuku secara berkala.
Faktor Kebersihan Alat
Medhi juga menyoroti aspek kebersihan alat di salon. Instrumen seperti gunting kuku, pemotong kutikula, hingga bor listrik berpotensi menjadi sumber penularan jika tidak disterilkan dengan optimal.
“Meski telah dibersihkan dengan disinfektan umum seperti benzalkonium klorida, bukan berarti seluruh mikroorganisme pasti hilang,” kata Medhi.
Penggunaan cat kuku secara bergantian tanpa prosedur steril yang memadai juga berisiko menjadi media penularan infeksi jamur kuku secara tidak langsung. Karena itu, standar kebersihan salon menjadi hal penting yang perlu diperhatikan konsumen.
Waspadai Dermatitis Kontak Alergi
Selain infeksi, risiko lain adalah reaksi alergi akibat bahan kimia dalam produk nail gel. Kuku gel umumnya mengandung 75–95 persen uretan dan (met)akrilat, serta katalis seperti dimetiltolilamina, fotoinisiator polimerisasi, dan zat pewarna. Beberapa formulasi modern juga mengandung turunan selulosa, plastisizer, dan pelarut.
“Bahan yang paling sering dilaporkan memicu alergi adalah toluene-sulfonamide-formaldehyde resin,” ungkap dokter yang juga berpraktik di RSUD dr. Soetomo, Rumah Sakit Universitas Airlangga, dan Erha Ultimate Jemursari.
Ia menambahkan, reaksi alergi tidak selalu muncul segera. Gejalanya bisa timbul dua hingga empat bulan, bahkan sampai 16 bulan setelah pemakaian pertama.
Tanda awal yang perlu diwaspadai antara lain rasa gatal di dasar kuku, kemerahan dan bengkak di lipatan kuku, nyeri saat kuku ditekan, kulit tangan kering dan pecah-pecah, hingga lempeng kuku terangkat. Meski demikian, kasus kerusakan kuku berat seperti kehilangan kuku permanen tergolong sangat jarang.
Karena itu, Medhi menekankan pentingnya menyeimbangkan kekhawatiran dengan pemahaman ilmiah agar masyarakat tidak terjebak informasi menyesatkan.
“Jika muncul tanda-tanda tersebut, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter kulit agar mendapatkan diagnosis dan terapi yang tepat,” pungkasnya.*








