Gejolak Pasar Energi: Harga Minyak Tembus Level Tertinggi Sejak 2022

Pasang Iklan Murah Meriah

CorongNews – Pasar minyak global sedang mengalami guncangan hebat. Harga minyak dunia melonjak ke titik tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir menyusul pernyataan tegas dari pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, terkait penutupan Selat Hormuz.

Laporan Harga Terkini

Berdasarkan data Reuters pada Jumat (13/3/26), penutupan perdagangan Kamis mencatatkan angka yang signifikan:

Angka-angka ini menjadi rekor penutupan tertinggi sejak Agustus 2022, mencerminkan kepanikan pasar terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Analisis Krisis Jalur Pasokan

Ketidakstabilan ini diprediksi tidak akan mereda dalam waktu dekat. Jim Burkhard, Wakil Presiden sekaligus Kepala Riset Minyak Global di S&P Global Energy, memberikan pandangannya:

“Pasar sangat tidak seimbang dan kondisi ini akan terus berlanjut sampai Selat Hormuz dibuka kembali dan operasi produksi serta distribusi kembali normal. Itu tidak akan terjadi dengan cepat,” ujarnya.

Eskalasi Konflik di Lapangan

Eskalasi ketegangan fisik kian nyata setelah muncul laporan mengenai serangan kapal Iran yang menyasar dua tanker bahan bakar di perairan Irak dengan menggunakan kapal bermuatan peledak. Insiden ini memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap stabilitas distribusi energi di kawasan tersebut.

Menurut keterangan dari pejabat keamanan setempat, serangan tersebut telah memaksa pelabuhan minyak utama Irak untuk menghentikan seluruh operasionalnya secara total.

Di saat yang sama, Oman juga mengambil langkah preventif dengan mengosongkan seluruh kapal dari terminal ekspor minyak utamanya di Mina Al Fahal demi menghindari risiko lebih lanjut.

Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan bahwa meskipun militer AS berencana memulai pengawalan kapal dagang di akhir bulan, saat ini hal tersebut belum bisa dilakukan. Namun, ia tetap optimis harga tidak akan menyentuh angka ekstrem $200 per barel.

Ancaman Pasokan Global dan Respon IEA

Badan Energi Internasional (IEA) menyebut krisis ini sebagai gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Data menunjukkan penurunan produksi dari negara-negara Teluk mencapai 10 juta barel per hari, setara 10% permintaan dunia ditambah penghentian kapasitas kilang sebesar 2,35 juta barel per hari.

Sebagai langkah darurat, IEA menyetujui pelepasan 400 juta barel dari cadangan strategis. Meski demikian, para analis meragukan efektivitasnya. Volume tersebut dianggap sulit untuk dilepas sepenuhnya ke pasar.

Jika berhasil dilepaskan pun, jumlah ini diperkirakan hanya mampu menutupi kekosongan pasokan selama kurang lebih 25 hari.*

Pos terkait