Eskalasi Konflik AS-Israel-Iran: Antara Klaim Kemenangan dan Ancaman Global

Pasang Iklan Murah Meriah

CorongNews – Memasuki hari ke-11 pada Selasa (10/3/2026), ketegangan bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran masih diselimuti ketidakpastian tinggi. Berdasarkan laporan The Guardian pukul 14.17 WIB, belum ada indikasi kuat akan terjadinya gencatan senjata meski sinyal dari kedua kubu saling bertolak belakang.

Kontradiksi Klaim dan Reaksi Pasar

Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan optimistis dengan menyebut operasi militer ini “hampir selesai” dan berjalan melampaui target jadwal awal.

Meski mengakui misi belum tuntas sepenuhnya, klaim Trump bahwa AS “sudah menang dalam banyak hal” sempat memberi angin segar bagi ekonomi global.

Dampaknya, harga minyak yang sempat meroket ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir mulai melandai, diiringi dengan penguatan bursa saham dunia.

Bacaan Lainnya

Namun, optimisme ini berbanding terbalik dengan sikap Teheran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan kesiapan negaranya untuk terus meluncurkan serangan rudal. Ia bahkan menyatakan bahwa pintu diplomasi dengan Washington telah tertutup bagi agenda Iran saat ini.

Pertaruhan Jalur Minyak Dunia dan Operasi Militer

Situasi memanas di Selat Hormuz setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) mengancam akan memblokade total distribusi minyak jika agresi AS dan Israel tidak dihentikan. Mengingat jalur ini memasok seperlima kebutuhan minyak dunia, Trump membalas dengan ancaman serangan “20 kali lebih keras” jika Iran nekat menutup selat tersebut.

Di lapangan, operasi militer terus meluas dengan militer Israel yang mengklaim telah melancarkan serangan baru ke jantung wilayah Iran dan ibu kota Lebanon, Beirut, guna menyasar milisi Hezbollah.

Sementara itu di Irak utara, empat anggota kelompok bersenjata Kataeb Imam Ali yang didukung Iran dilaporkan tewas dalam sebuah serangan udara.

Di Teheran sendiri, sebuah kilang minyak dilaporkan terkena serangan hingga menimbulkan kepulan asap hitam pebal, sebuah eskalasi yang dinilai sangat serius terhadap infrastruktur energi dalam negeri.

Dampak Kemanusiaan dan Keterlibatan NATO

Dampak kemanusiaan dari konflik ini terus memburuk dengan angka korban yang signifikan di kedua belah pihak sejak pecah pada 28 Februari 2026. Duta Besar Iran untuk PBB melaporkan setidaknya 1.332 warga sipil Iran telah gugur dan ribuan lainnya mengalami luka-luka.

Sementara itu di Israel, tekanan terhadap fasilitas kesehatan meningkat tajam; Kementerian Kesehatan setempat mencatat sebanyak 191 pasien baru masuk untuk menjalani perawatan dalam 24 jam terakhir, sehingga total warga yang telah mendapat penanganan medis sejak awal konflik mencapai 2.339 orang.

Ketegangan ini juga mulai menyeret anggota NATO secara langsung. Turki mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil menembak jatuh sebuah rudal balistik asal Iran yang memasuki wilayah udara mereka. Di sisi lain, terdapat upaya untuk meredakan tekanan pasokan global di mana Trump mempertimbangkan pencabutan sebagian sanksi minyak setelah melakukan diskusi dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Dunia kini menanti perkembangan selanjutnya dengan waspada. Pernyataan Trump mengenai perang yang “hampir selesai” memang memunculkan harapan akan adanya peredaan konflik, namun ancaman blokade Selat Hormuz dan tekad Iran untuk melanjutkan serangan menunjukkan bahwa situasi masih jauh dari kata stabil.*

Pos terkait