AS Buru Pemimpin Baru Iran: Sayembara Rp169 Miliar untuk Informasi Mojtaba Khamenei

Pasang Iklan Murah Meriah

CorongNews – Pemerintah Amerika Serikat melalui program Rewards for Justice (RFJ) Departemen Luar Negeri, secara resmi mengumumkan sayembara besar-besaran. Mereka menawarkan hadiah hingga US$ 10 juta atau setara dengan Rp169 miliar bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi mengenai keberadaan pemimpin baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei.

Langkah ini tidak hanya menyasar Mojtaba, tetapi juga sejumlah petinggi Iran lainnya yang dianggap memiliki peran krusial dalam struktur kekuasaan negara tersebut.

Berdasarkan pernyataan resmi RFJ yang dikutip pada Sabtu (14/3/26), imbalan tersebut ditujukan “(hadiah) untuk informasi tentang para pemimpin kunci Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan cabang-cabang komponennya. Individu-individu ini meminim dan mengarahkan berbagai elemen IRGC, yang merencanakan, mengatur, dan melaksanakan terorisme di seluruh dunia,” tegas pihak RFJ.

Selain Mojtaba, daftar target Amerika Serikat mencakup tokoh-tokoh berpengaruh seperti:

Bacaan Lainnya
  • Ali Asghar Hejazi (Wakil Kepala Staf di Kantor Pemimpin Tertinggi/SLO)

  • Ali Larijani (Penasihat SLO)

  • Brigjen Eskandar Momeni (Menteri Dalam Negeri)

  • Esmail Khatib (Menteri Intelijen dan Keamanan)

Ketegangan di Dalam Negeri Iran: Isu “Kolom Kelima”

Di sisi lain, Teheran merespons tekanan internasional ini dengan memperketat pengawasan internal. Otoritas Iran memperingatkan warganya akan ancaman dari pihak yang mereka sebut sebagai “kolom kelima”, kelompok di dalam negeri yang dicurigai bekerja sama secara rahasia dengan pihak asing untuk merusak stabilitas nasional.

Melansir laporan Al Jazeera (8/3), aparat keamanan Iran menyatakan tidak akan segan bertindak tegas terhadap siapa pun yang dianggap membantu musuh, terutama dalam konflik melawan AS dan Israel. Kementerian Intelijen Iran bahkan mengeklaim telah mendeteksi aktivitas yang mereka sebut sebagai “tentara bayaran Amerika-Zionis”.

Para terduga ini dituduh melakukan dokumentasi visual pada lokasi-lokasi jatuhnya rudal untuk kemudian dikirimkan ke jaringan satelit serta situs luar negeri.

Eskalasi Konflik dan Perubahan Rezim

Situasi ini merupakan buntut dari serangan militer yang dilancarkan AS dan Israel pada 28 Februari lalu yang menghantam berbagai titik di Iran, termasuk Teheran. Serangan tersebut mengakibatkan jatuhnya korban sipil dan menewaskan Pemimpin Tertinggi sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei.

Pasca-insiden itu, Iran membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di Timur Tengah serta wilayah Israel.

Kematian Ali Khamenei kemudian membawa putranya, Mojtaba Khamenei, naik sebagai pemimpin baru Iran. Meski AS dan Israel awalnya berkilah bahwa serangan mereka hanyalah langkah “pendahuluan” untuk meredam program nuklir Iran, belakangan Washington secara terbuka menyatakan tujuan mereka yang lebih besar: menginginkan adanya perubahan rezim di Teheran.*

Pos terkait