Trump Tak Senang Israel Hancurkan Depot Minyak Iran, Ketegangan Muncul di Balik Aliansi

Pasang Iklan Murah Meriah

CorongNews – Konflik yang melibatkan Iran kini telah memasuki hari ke-10 pada Senin (9/3/26). Pada Sabtu (7/3/2026), Israel melancarkan serangan terhadap depot minyak Iran.

Serangan tersebut merusak sejumlah fasilitas penyimpanan minyak, namun langkah Israel itu justru menimbulkan kekecewaan dari Amerika Serikat (AS).

Serangan yang dilakukan Israel terhadap depot bahan bakar pada Sabtu berlangsung dalam skala besar. Dilaporkan sedikitnya 30 depot bahan bakar di berbagai wilayah Iran hancur hanya dalam satu malam.

Mengutip Anadolu, pihak Israel menyatakan bahwa target serangan adalah depot minyak yang disebut-sebut digunakan Iran untuk menyuplai bahan bakar bagi unit militernya.

Bacaan Lainnya

Serangan tersebut juga dilaporkan memicu kebakaran besar di Teheran. Asap tebal terlihat membumbung dari tangki minyak dan area industri yang terdampak kebakaran.

Namun, menurut laporan Axios, operasi militer ini justru memicu ketegangan antara Israel dan sekutu utamanya, Amerika Serikat. Pasalnya, skala serangan yang dilaporkan Israel kepada AS disebut tidak sebesar kenyataan yang terjadi di lapangan.

Seorang penasihat Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa presiden tidak menyukai operasi tersebut. Penasihat yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan Trump lebih memilih cadangan minyak Iran tetap terjaga daripada dihancurkan.

“Presiden tidak menyukai serangan itu. Dia ingin menyelamatkan minyak. Dia tidak ingin membakarnya,” ujar penasihat tersebut.

Ia juga menambahkan bahwa Trump khawatir serangan besar Israel terhadap sekitar 30 depot minyak Iran dapat mengguncang pasar energi dan mendorong kenaikan harga komoditas tersebut.

“Itu mengingatkan orang-orang tentang harga bensin yang lebih tinggi,” kata sang penasihat, menggambarkan pandangan Trump.

Tidak hanya Trump, sejumlah pejabat Gedung Putih juga disebut mengkhawatirkan dampak serangan Israel pada Sabtu tersebut. Mereka menilai serangan itu bisa menjadi bumerang karena berpotensi meningkatkan simpati dan dukungan terhadap rezim Republik Islam Iran.

Kekecewaan Trump atas serangan Israel bahkan membuat kedua negara sekutu itu merencanakan pertemuan tingkat tinggi. Pertemuan tersebut dijadwalkan untuk membahas perbedaan pandangan dan harapan terkait jalannya Perang Iran antara Washington dan Tel Aviv.

Iran Ancam Membalas

Di sisi lain, Iran mengancam akan memberikan respons atas serangan Israel pada Sabtu lalu. Juru bicara markas besar Khatam al-Anbiya Iran mengatakan bahwa Teheran dapat melancarkan serangan serupa di berbagai wilayah kawasan apabila serangan Israel dengan tingkat kerusakan seperti yang terjadi pada Sabtu terus berlanjut.

Ia juga memperingatkan bahwa hingga kini Iran belum menargetkan infrastruktur bahan bakar dan energi regional di kawasan Teluk Persia maupun Asia Barat lainnya. Namun jika keputusan tersebut diambil, harga minyak dunia diperkirakan bisa melonjak hingga USD200 per barel.

Ancaman serupa juga disampaikan oleh ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Pejabat senior Iran itu menegaskan bahwa Teheran akan melakukan serangan balasan “tanpa penundaan” apabila Israel terus menargetkan infrastruktur energi Iran dalam skala besar seperti pada Sabtu.

Sejauh ini Iran juga dilaporkan terus menyerang AS dan sekutunya di Asia Barat, terutama menggunakan drone. Pertempuran antara pihak-pihak yang terlibat disebut telah menimbulkan ribuan korban jiwa.

Menurut Al Jazeera, Bulan Sabit Merah Iran melaporkan lebih dari 1.600 warga Iran tewas akibat perang tersebut. Angka itu mencakup personel militer maupun warga sipil.

Militer AS mengonfirmasi bahwa delapan personelnya tewas dan 18 lainnya mengalami luka-luka dalam konflik tersebut. Sementara itu, Israel melaporkan 13 korban tewas di pihaknya.

Korban jiwa juga dilaporkan terjadi di beberapa negara sekutu AS di kawasan Teluk, termasuk Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Arab Saudi.

Selain itu, korban juga berjatuhan di Lebanon akibat serangan Israel di negara tersebut. Dilaporkan lebih dari 300 orang telah meninggal dunia di Lebanon.*

Pos terkait