Negosiasi di Islamabad Buntu: Ketegangan AS-Iran Kembali Memuncak

Pasang Iklan Murah Meriah

CorongNews – Upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran menemui jalan buntu setelah pembicaraan intensif selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa hasil pada Minggu (12/4/26). Dengan kepulangan delegasi dari kedua belah pihak, harapan untuk memperpanjang gencatan senjata yang ada kini berada di ujung tanduk.

Kegagalan ini memicu aksi saling tuding terkait mandeknya solusi atas konflik yang telah berjalan selama 1,5 bulan terakhir. Sejauh ini, peperangan tersebut telah merenggut ribuan nyawa dan mengguncang stabilitas ekonomi melalui lonjakan harga minyak mentah dunia.

Sudut Pandang Amerika Serikat

Wakil Presiden AS, JD Vance, yang turun langsung memimpin negosiasi, mengungkapkan bahwa pihak Teheran menolak poin-poin krusial yang diajukan Washington.

“Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir ini lebih buruk bagi Iran dibandingkan bagi Amerika Serikat,” tegas Vance sebagaimana dilaporkan Reuters.

Bacaan Lainnya

Pemerintah AS tetap teguh pada prinsip utama mereka, yakni penghentian total ambisi nuklir Iran.

“Kami perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mengembangkan senjata nuklir dan tidak akan mencari cara untuk dengan cepat mewujudkannya. Itu adalah tujuan utama AS, dan itulah yang kami upayakan dalam negosiasi ini,” tambah Vance.

Respons Iran dan Kondisi Selat Hormuz

Di sisi lain, Teheran menganggap tuntutan yang disodorkan AS tidak masuk akal. Meski media lokal Iran melaporkan adanya titik temu pada beberapa poin, perbedaan pandangan mengenai program nuklir dan kendali atas Selat Hormuz masih menjadi tembok penghalang yang besar.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyoroti minimnya rasa saling percaya dalam forum tersebut.

“Wajar jika kita tidak berharap mencapai kesepakatan hanya dalam satu kali pertemuan,” cetusnya.

Di sektor logistik laut, situasi di lapangan menunjukkan dinamika yang kontras. Selama periode jeda kemanusiaan dua pekan terakhir, sejumlah kapal tanker minyak memang dilaporkan mulai memberanikan diri untuk melintasi Selat Hormuz.

Namun, pergerakan ini belum sepenuhnya normal, mengingat masih ada ratusan kapal pengangkut lainnya yang memilih tetap tertahan di kawasan perairan Teluk. Para nakhoda dan perusahaan pelayaran tersebut masih menunggu jaminan keamanan yang pasti setelah gagalnya dialog diplomatik di Islamabad.*

Pos terkait