CorongNews – Kataib Hezbollah merupakan kelompok milisi dan paramiliter asal Irak yang diketahui mendapat dukungan dari Iran. Seperti dilaporkan The Washington Post, kelompok ini bernaung di bawah Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) Irak.
PMF sendiri mulai dibentuk pada 2005 dan pada 2007 disebut berada di bawah arahan langsung Pasukan Quds Iran.
Media Rudaw di Irak serta Maariv di Israel melaporkan bahwa Kataib Hezbollah mengancam akan memberikan dampak besar bagi Amerika Serikat jika ketegangan meningkat. Rudaw juga menyebut kelompok itu telah meminta para anggotanya untuk bersiap menghadapi apa yang mereka sebut sebagai “perang gesekan”.
Selain itu, mereka memperingatkan otoritas di Wilayah Kurdistan agar tidak menjalin kerja sama dengan “pasukan asing yang bermusuhan”.
“Dengan adanya ancaman dari Amerika Serikat serta peningkatan kekuatan militer yang menandakan eskalasi berbahaya di kawasan ini, seluruh pejuang harus bersiap untuk kemungkinan perang gesekan yang bisa berlangsung lama,” ujar seorang komandan Kataib Hezbollah kepada AFP, seperti dikutip Asharq Al-Awsat pada Sabtu (28/2/26).
Komandan tersebut menegaskan bahwa Iran dipandang sebagai mitra strategis utama bagi kelompoknya. Karena itu, serangan terhadap Iran akan dianggap sebagai ancaman langsung terhadap Kataib Hezbollah.
Ia juga mengingatkan bahwa kelompok-kelompok bersenjata Irak yang dikenai sanksi oleh AS sebelumnya tidak turut campur dalam perang singkat selama 12 hari antara Israel dan Iran tahun lalu.
Namun, menurutnya, situasi saat ini berbeda. Jika ada serangan yang bertujuan menggulingkan pemerintahan Iran, respons mereka disebut akan lebih keras dan tidak mudah dikendalikan.
Dalam beberapa bulan terakhir, di tengah perang Israel–Hamas di Gaza, kelompok-kelompok pro-Iran telah melancarkan serangan terhadap pasukan AS di kawasan tersebut, serta melakukan sejumlah upaya serangan terhadap Israel yang sebagian besar tidak berhasil.
Kelompok-kelompok ini termasuk dalam jaringan yang dikenal sebagai “poros perlawanan”, yang juga melibatkan Hezbollah di Lebanon, Hamas di Gaza, serta Houthi di Yaman.
Seorang pejabat Hezbollah mengatakan kepada AFP bahwa pihaknya tidak akan turun tangan secara militer bila AS hanya melakukan serangan terbatas ke Iran.
Namun, apabila serangan tersebut menyasar pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, maka itu akan dipandang sebagai “garis merah” yang memicu tindakan balasan.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump telah menempatkan kapal perang dan pesawat tempur di sekitar wilayah Iran guna memperkuat ancaman serangan apabila perundingan mengenai program nuklir Iran tidak membuahkan hasil.
Putaran ketiga pembicaraan antara delegasi AS dan Iran berlangsung pada Kamis (26/2/26).
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan kepada televisi pemerintah bahwa negosiasi tersebut menunjukkan perkembangan yang sangat positif.*








