CorongNews – Konflik terbaru pecah pada Kamis (26/2/26) malam ketika militer Taliban Afghanistan melancarkan serangan ke sejumlah titik militer Pakistan di kawasan perbatasan.
Otoritas di Kabul menyatakan aksi tersebut sebagai bentuk pembalasan atas serangan udara Pakistan beberapa hari sebelumnya yang menargetkan lokasi yang disebut sebagai kamp militan di Afghanistan.
Menurut klaim pemerintah Afghanistan, sedikitnya 18 orang tewas akibat pemboman tersebut.
Menanggapi hal itu, pada Jumat dini hari Pakistan mengumumkan operasi militer bertajuk “Ghazab Lil Haqq” atau “Operation Righteous Fury.”
Serangan udara Pakistan kemudian menyasar beberapa area strategis di Afghanistan, termasuk Kabul, Provinsi Paktia di wilayah tenggara, serta Kandahar yang dikenal sebagai tempat kelahiran gerakan Taliban sekaligus basis pemimpin tertinggi mereka, Hibatullah Akhundzada.
Pemerintah Pakistan menegaskan bahwa target operasi adalah fasilitas pertahanan milik Taliban. Langkah ini menunjukkan eskalasi besar dalam respons militer Islamabad.
Kronologi Hubungan Pakistan dan Afghanistan Memanas
1. Ketegangan Pakistan dan Afghanistan Terjadi Sejak 1947
Relasi Pakistan dan Afghanistan telah diwarnai pasang surut ketegangan sejak Pakistan merdeka pada 1947. Kedua negara dipisahkan oleh garis perbatasan panjang yang dikenal sebagai Durand Line.
Walaupun masyarakat di kedua sisi memiliki kedekatan agama dan budaya, dinamika geopolitik membuat hubungan bilateral kerap berada dalam situasi rapuh.
2. Masa Invasi Uni Soviet 1979
Situasi menjadi semakin kompleks saat Afghanistan diserbu Uni Soviet pada 1979. Konflik berkepanjangan itu berlanjut dengan intervensi Amerika Serikat pada 2001 setelah serangan 11 September, sebagaimana dilaporkan The Geopolitics.
Perang melawan terorisme yang dipimpin Amerika Serikat terhadap Al-Qaeda dan Taliban berlangsung selama sekitar 20 tahun.
Pada 2021, pasukan AS ditarik, dan Taliban kembali mengambil alih pemerintahan Afghanistan.
3. Kelompok Militan Menguat Setelah AS Hengkang
Penarikan pasukan AS membawa dampak signifikan bagi kawasan, khususnya Pakistan.
Seiring kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan di Kabul, kelompok Tehrik e-Taliban Pakistan (TTP) kembali menunjukkan peningkatan aktivitas.
TTP adalah kelompok bersenjata yang menentang pemerintah Pakistan dan memiliki jaringan serta basis perlindungan di wilayah perbatasan Afghanistan.
Islamabad menuding TTP mendapat dukungan atau setidaknya ruang aman dari Taliban Afghanistan. Namun, tudingan itu dibantah oleh Kabul yang menyebut TTP sebagai persoalan domestik Pakistan.
Dalam perkembangannya, TTP semakin intens melancarkan serangan. Kelompok ini menyuarakan keinginan menerapkan hukum syariah di Pakistan seperti yang diterapkan Taliban di Afghanistan, serta meningkatkan aksi terhadap aparat keamanan dan fasilitas militer.
4. Serangan Militer Meningkat pada 2024 di Kedua Negara
Sepanjang 2024, jumlah serangan militan dilaporkan melonjak sekitar 40 persen dibanding tahun sebelumnya. Tercatat 905 insiden yang menewaskan 1.177 orang dan melukai 1.292 lainnya.
Pemerintah Pakistan mengklaim telah menewaskan 934 militan. Kendati demikian, tingkat kekerasan tetap tinggi sehingga 2024 disebut sebagai tahun paling mematikan dalam sepuluh tahun terakhir.
Hubungan diplomatik Islamabad dan Kabul pun semakin memanas. Pakistan berulang kali mendesak pemerintah Taliban Afghanistan untuk bertindak terhadap TTP yang diduga beroperasi dari wilayah Afghanistan.
Di sisi lain, Afghanistan menegaskan bahwa isu TTP merupakan tanggung jawab internal Pakistan.
Sebagai respons terhadap memburuknya situasi, Pakistan meluncurkan operasi kontra-terorisme berskala besar bernama “Azm-e-Istehkam” pada Juni 2024 untuk menghadapi ancaman keamanan dalam negeri maupun lintas batas.
Pada Desember 2024, Pakistan kembali melakukan serangan udara ke Afghanistan yang diklaim menyasar anggota TTP. Pemerintah Taliban mengecam tindakan tersebut dan menyatakan akan melakukan pembalasan.
5. Tahun 2025 Ketegangan Pakistan vs Afghanistan Tak Kunjung Membaik
Memasuki 2025, kondisi keamanan di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa (KPK) dan Balochistan semakin memburuk. Puluhan serangan militan terjadi di wilayah KPK, bekas daerah FATA, serta Balochistan.
Kekerasan tidak hanya menyasar aparat, tetapi juga memakan korban sipil dan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar.
Ancaman TTP juga dikaitkan dengan jaringan kelompok ekstremis lain. Laporan PBB menyebut bahwa Al-Qaeda memberikan pelatihan kepada militan TTP di wilayah dekat perbatasan Afghanistan.
Selain itu, dugaan koneksi antara TTP dan Islamic State – Khorasan Province (ISKP) memperbesar potensi ancaman terhadap stabilitas regional.
Dalam perspektif keamanan kawasan, gangguan di satu negara dapat dengan mudah berdampak pada negara tetangga, sehingga konflik ini berisiko meluas di Asia Selatan.
Gelombang kekerasan tersebut berdampak serius bagi Pakistan. Selain korban jiwa dari kalangan sipil dan militer, stabilitas ekonomi serta citra internasional negara ikut terpengaruh. Ketidakpastian keamanan turut menekan minat investasi asing.
6. Februari 2026 “Perang Terbuka” Dinyatakan
Pada akhir Februari 2026, eskalasi ketegangan berubah menjadi bentrokan militer terbuka di sepanjang garis Durand Line. Serangan lintas batas yang saling dibalas memicu situasi yang semakin panas.
Afghanistan menyebut aksinya sebagai balasan atas pemboman Pakistan terhadap dugaan kamp militan di wilayahnya.
Sementara Pakistan menyatakan langkah tersebut sebagai bentuk pertahanan diri dari ancaman Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) yang disebut berlindung di Afghanistan.
Islamabad kemudian menggencarkan operasi militer besar dengan serangan udara ke Kabul, Paktia, dan Kandahar. Menteri Pertahanan Pakistan menegaskan bahwa negaranya tidak lagi dapat menahan diri menghadapi situasi tersebut.*








